Perbanyakan zaitun dengan setek lebih cepat, 21 hari siap tanam. Tingkat keberhasilan 80%.

Demam menanam zaitun di tanahair membuat penangkar bibit getol memperbanyak Olea eoropaea itu. Mereka memperbanyak tanaman lambang perdamaian itu dengan setek dan cangkok. Sayang, hampir semua penangkar mengeluh sulit memperbanyak zaitun. Tengoklah pengalaman Fendi Salim di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang memperbanyak zaitun dengan cangkok. Ia menggunakan batang berdiameter 0,5 cm dengan media tanam sekam bakar dan sedikit tanah merah.

 

Fendi Salim mempertahankan kelembapan media 60%. Saat mencangkok ia menutup rapat media dengan plastik untuk mencegah penguapan. Akar tumbuh dan cangkokan siap dipindahkan ke lahan pada bulan ke-2. Fendi tiga kali mencangkok zaitun dari satu induk. Diameter batang terlampau kecil menjadi kendala sehingga tingkat keberhasilannya hanya 40%.

Proses Bertahap

Penangkar bibit di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Romia Satria Agung, berhasil menyetek zaitun. Dalam 21 hari setek pohon perdamaian itu siap tanam. Tingkat keberhasilan perbanyakan dengan setek mencapai 80%. Ia memanfaatkan gelas kemasan air minum, jaring, dan sungkup plastik ultraviolet berukuran 3 m x 4 m.  Namun, jalan sukses itu tidak diraih dalam sekejap. Romia 10 kali menguji coba hingga akhirnya berhasil.

Ia menggunakan plastik ultraviolet dan dua lapis jaring untuk menutupi ruang pengabutan berukuran 3 m x 4 m berkerangka besi. Tujuannya untuk mengurangi intensitas sinar matahari. Ruang itu untuk merawat setek sampai keluar akar pada percobaan pertama ia mengambil 500 setek dari 20 induk. Tinggi setek 10 cm.  Media  menggunakan busa basah berukuran 10 cm x 10 cm x 10 cm. Percobaan pertama gagal, tak satu pun setek berakar.

Romia masih penasaran sehingga ia melakukan percobaan kedua. Metode sama dan 10% berhasil tumbuh. Pada eksperimen ketiga, pria yang tinggal di Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, itu sukses menumbuhkan setek. Tingkat keberhasilan 40%. Bahkan, sejak percobaan ke-4 hingga ke-10 tingkat keberhasilan hingga 80%. “Kuncinya, menggunakan batang berukuran 15—20 cm dari bagian ujung pasti berhasil. Bagian pucuk dipotong sepanjang 2 cm. Semakin ke bawah, tingkat keberhasilannya rendah,” ujarnya.

Selain itu, pemotongan batang harus menggunakan silet tajam. Penggunaan gunting merusak ujung batang tempat munculnya akar. Setelah memotong batang, ia merendam pangkal batang dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh (ZPT) selama 10 menit. Romia kemudian meniriskan calon setek itu dan menancapkannya di media tanam busa di dalam gelas air kemasan. Pada 21—30 hari berselang, setek pun berakar.

Di ruang pengabutan penyiraman diatur setiap 15 menit selama 25—30 detik untuk menjaga kelembapan tanah. Romia lantas memindahkan tanaman berakar ke pot berdiameter 10 cm. Media tanam dalam pot itu berupa campuran sekam bakar dan tanah merah dengan perbandingan 3 : 2. Selama 3—4  pekan, ia meletakkan pot-pot itu di tempat teduh. Ketika itulah ia memberi pupuk NPK mutiara berkonsentrasi dua sendok per liter air.

Pada bulan ketiga ia meletakkan hasil setek di bawah sinar matahari sepanjang pagi. Ia mempertahankan perlakuan itu selama 1,5 bulan. Menurut Romia, selama proses aklimatisasi populasi setek turun hingga 10%. Ia juga memberikan pupuk daun dan kotoran kambing. Perbanyakan zaitun dengan setek juga dipakai Benara Nurseries di Karawang, Jawa Barat. “Tiga tahun terakhir kami mengembangkan zaitun jenis correggiolo,  frantoio,  mannzaillo, nevadilo, dan blanco,” kata Manager Produksi Benara, Ir Muhammad Yusuf Siregar.

Umur sedang

Untuk memperbanyak zaitun, Yusuf menggunakan batang hijau sepanjang 10 cm, tidak terlalu tua, dan tidak terlalu muda. Batang kaku menandakan tua sedangkan bagian pucuk—kira-kira 2 cm—dipotong.  Ia mengolesi setiap pangkal setek dengan ZPT dan diletakkan dalam ruang pengabutan. Selain itu ia mengurangi daun untuk memperkecil penguapan. Yusuf memanfaatkan sekam, pasir, serbuk sabut kelapa dengan perbandingan 3 : 1 : 2 sebagai media.

Tiga sampai lima pekan kemudian akar muncul dan tanaman siap dipindahkan ke pot majemuk dengan intensitas sinar matahari 50%. Keberhasilan teknik setek di Benara mencapai 80%. “Apabila keberhasilan setek kurang dari 70% berturut-turut dan semakin menurun artinya perlu regenerasi induk baru,” kata Yusuf. Ia memberikan pupuk NPK setiap dua pekan dengan dosis sesuai merek. Apabila terserang hama, ia menyemprotkan pestisida dua kali dalam sepekan.

Menurut dosen Jurusan Biologi, Universitas Brawijaya, Malang, Ir Retno Mastuti, MAg Sc DAg Sc, menyetek  dilakukan dengan menggunakan bagian ranting dekat pucuk. Lalu saat menanam ke media potong pucuk sepanjang 2 cm. Tujuannya supaya tidak terjadi penguapan berlebih. Secara alami bagian pucuk memproduksi hormon auksin untuk membentuk akar.  Karena pucuk dihilangkan maka untuk menggantikan kebutuhan hormon yang menginduksi akar perlu mengoleskan atau merendam bagian bawah potongan dengan ZPT.

Doktor Biologi alumnus Universitas Nagoya, Jepang, itu menuturkan penggunaan bagian dekat dengan pucuk sebagai bahan setek sudah tepat sebab sesuai arah transport auksin dari tunas ke arah pangkal akar “Jarak itu lebih dekat dengan sumber sintesis auksin,” kata Retno. Penggunaan batang jauh dari pucuk masih dapat dilakukan. Namun, tingkat keberhasilannya lebih rendah dibandingkan setek pucuk. (Lutfi Kurniawan)