Mamey sapote magana bisa berbobot 2 kg lebih

Mamey sapote magana bisa berbobot 2 kg
lebih

Mamey sapote berhasil dicangkok, sehat, dan berbuah.

Eddy Soesanto jatuh cinta pada pandangan pertama. Kolektor buah di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat itu benar-benar kepincut ketika melihat foto mamey sapote jenis magana pada 2010. “Ukurannya bisa 2 kg lebih, lebih besar daripada jeni keywest yang hanya sekitar 1,3 kg,” kata Eddy.

Setelah melihat foto magana, ia mencari ke para kolektor buah. Pencarian selama kurang lebih 6 bulan itu membuahkan hasil. Eddy menemukan magana di halaman rumah seorang kolektor buah di Jawa Barat. Sayang pemilik magana tak menjual pohon itu. Namun, Eddy tak putus asa, ia berusaha untuk mendapatkan bibitnya. Penangkar bibit buah itu bernegosiasi sehingga sang empunya akhirnya membolehkan Eddy mencangkok pohon induk.  Syaratnya, Eddy mesti menyerahkan beberapa hasil cangkokan yang sehat. Namun, seperti dugaan Eddy, “Mencangkok mamey sapote tak semudah mencangkok tanaman buah lain seperti jambu, lengkeng, atau sawo biasa,”

Eddy Soesanto dengan pohon indukan mamey sapote magana

Eddy Soesanto dengan pohon indukan
mamey sapote magana

Cangkokan ke-3

Eddy mencangkok mamey itu di cabang horizontal berdiameter 2—5 cm. Ia mencangkok 10 batang. “Saya menggunakan media tanah saja tanpa pupuk. Karena saya khawatir pupuk itu malah membuat cangkokan berjamur,” ujarnya.

Setelah 3 bulan, cangkokan berakar. Namun, Eddy bersabar menunggu hingga akar cangkokan lebih banyak.  Dua bulan berselang akar maksimal dan Eddy memotong cabang dari pohon induk. Ia merobek sedikit bungkus cangkokan, mencelupkan akar cangkok mamey itu ke dalam hormon perangsang tumbuh dengan konsentrasi 5 ml per liter. “Dirobek sedikit biar hormon bisa terserap,” kata Eddy.

Setelah ditiriskan, Eddy lalu menanamnya di polibag dengan media sekam, tanah dan pupuk kandang perbandingan 1 : 1 : 1.

Ia menyiram dua hari sekali. Pohon itu diletakkan di tempat teduh hingga muncul tunas atau sekitar 1,5 bulan. Kemudian setelah bertunas, Eddy pun memindahkannya ke tempat panas atau tanpa naungan. “Sekitar 3—4 bulan, semua cangkokan mati,” kata Eddy. Ia menduga pohon masih belum sehat.

Angin kencang

Eddy tak patah arang. Ia kembali mencangkok pohon induk berumur sekitar 20-an tahun itu sebanyak 3 cangkok. Proses pada cangkokan pertama Eddy ulangi. Namun, ia tak terburu-buru memindahkan cangkokan di lahan langsung, Eddy menunggu sekitar 3 bulan hingga daun kecil menjadi remaja dengan panjang daun sekitar 15 cm.

Eddy lalu memindahkan ke tempat yang lebih netral antara teduh dan panas seperti di bawah pepohonan. Setelah 2 bulan, panjang daun menjadi sekitar 20-an cm. Eddy lalu memindahkan ke lahan langsung dengan lubang tanam 1 m x 1 m x 1 m. Ia juga menambahkan 30—an kg pupuk kandang dan 0,5 kg pupuk NPK per pohon.

Berhasil? Lagi-lagi Eddy gagal. Pohon itu terkena angin besar dan hujan deras. “Pohonnya mati karena banyak akar yang putus ketika pohon tertiup angin kencang,” katanya. Untuk ketiga kalinya, Eddy mencoba lagi. Kali ini ia benar-benar memperhatikan setiap langkah untuk memperbanyak mamey sapote magana itu.

Ia mengulangi langkah-langkah seperti pada cangkokan kedua. Kali ini 6 cangkokan. Namun, Eddy tak habis akal. Ketika ia mulai menanam di lahan, Eddy memberikan ajir berupa bambu sebagai tempat bersandar pohon kecil itu. Dari 6 pohon yang sudah berakar, hanya 3 yang sehat dan tumbuh subur. Kali ini Eddy berhasil. Tiga pohon hasil cangkokan itu tumbuh subur dan berdaun lebat. “Saya masih menunggu kemunculan bunga dan buah,” kata Eddy. Eddy sama sekali tak memacu pohon untuk segera berbuah. “Saya khawatir pohon malah sakit dan bisa mati,” kata Eddy.

1,5 tahun

Dalam perawatannya Eddy hanya menambahkan 30—an kg pupuk kandang setiap 6 bulan dan 0,5 kg pupuk NPK 6 bulan sekali. Menurut penangkar buah di Demak, Jawa Tengah, Prakoso Heryono memperbanyak mamey sapote memang susah, baik secara sambung pucuk apalagi cangkok. Prakoso baru sukses memperbanyak mamey sapote secara sambung susu.

Namun, menurut kolektor tanaman buah di Parung, Kabupaten Bogor, Ricky Hadimulya, perbanyakan mamey sapote dengan sambung susu juga sulit. “Kita harus menemukan bahan untuk batang bawah yang tepat,” kata Ricky. Menurut Ricky, satu-satunya yang cocok sebagai batang bawah mamey sapote hasil sambung pucuk adalah mamey sapote juga. Hal senada disampaikan Prakoso. “Ada yang menggunakan batang bawah alkesah, tetapi tidak cocok. Pertumbuhan batang bawah kalah cepat dengan batang atas,” kata Prakoso.

Penantian panjang Eddy akhirnya terbayar 1,5 tahun kemudian. Pada 2012, pohon mamey sapote magana itu mulai berbunga. Namun, semua bunga rontok tak tersisa dan Eddy tak tahu penyebabnya. Baru pada pembuahan ketiga, mamey sapote itu mulai berbuah dan bisa bertahan meskipun belum sampai pada ukuran maksimal yaitu 2 kg lebih. Menurut Eddy, buah mamey sapote magana bisa dipanen ketika umur 7—8 bulan pascabunga. “Buah dipanen dengan tingkat kematangan 80%,” kata Eddy. Buah kemudian diperam 3—4 hari untuk mendapatkan rasa maksimal, yaitu manis dan lembut.  (Bondan Setyawan)

http://www.trubus.biz/?p=17741