Kebun melon intensif terhindar dari serangan hama dan penyakit

Kebun melon intensif terhindar dari serangan hama dan penyakit

Penyakit melon itu membusukkan daging buah, sementara kulit buah mulus.

Pekebun melon di Muarakarang, Jakarta Utara, Tatang Halim, terkejut ketika membelah sebuah melon golden hasil panen kebunnya. “Daging buahnya busuk di dalam,” katanya. Padahal, kulit luar buah tampak mulus. “Tidak terlihat tanda-tanda buahnya rusak atau busuk, baik di buah, batang, akar, maupun daun,” kata Tatang. Ia semakin kecewa ketika mendapati penyakit itu bukan hanya menyerang 1 atau 2 buah, tapi 100 melon lain. “Ada yang di dalamnya masih keras, tapi banyak air dan bau,” kata Tatang.

Penyakit juga menyerang buah melon berdaging jingga berkulit buah hijau berjaring. Namun, gejalanya berbeda dengan yang dialami melon golden. “Ketika buah dibelah tampak daging buah seperti terdapat miselium cendawan berwarna abu-abu. Sementara buah dari luar terlihat mulus,” kata Tatang. Menurut ketua Ikatan Petani Melon Cilegon (IPMC), Ade Dwi Adedi, serangan kedua penyakit itu membusukkan buah biasanya 3—4 hari pascapanen. “Biasanya saat awal panen mulus, tapi setelah 3—4 hari kulit luar tampak kecokelatan,” ujarnya.

Tatang Halim mengebunkan melon di Desa Korelet, Kecamatan Curug, Kota Tangerang Selatan

Tatang Halim mengebunkan melon di Desa Korelet, Kecamatan Curug, Kota Tangerang Selatan

Bakteri dan cendawan

Akibat serangan kedua penyakit itu, Tatang kehilangan pendapatan hingga jutaan rupiah.  Harga jual melon yang ia tanam rata-rata mencapai Rp30.000 per buah atau sekitar Rp15.000 per kg.  “Ini pertama kalinya melon saya terserang penyakit seperti itu,” ujar pria yang mengebunkan melon sejak 2011.

Peneliti di Pusat Kajian Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor (PKHT-IPB), Jawa Barat, Kusuma Darma SP MSi, menduga penyakit pada melon golden akibat serangan bakteri Erwinia sp. “Itu terlihat dari gejala daging buah busuk, berlendir, dan kadang-kadang berbau,” ujarnya. Menurut Kusuma jika serangan itu dibiarkan dapat merugikan pekebun hingga 100% alias gagal panen.

Kusuma menduga penyakit yang menyerang melon berjaring dan berdaging buah jingga akibat serangan cendawan Fusarium sp. “Ciri-cirinya muncul miselium yang berwarna abu-abu kehijauan di dalam buah,” tutur alumnus Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor itu. Kusuma menuturkan cendawan dan bakteri lebih gencar menyerang pada musim  hujan. Kedua patogen itu menyukai kondisi lembap. “Pekebun perlu melakukan upaya pencegahan untuk menekan serangan penyakit,” kata Kusuma.

Serangan Erwinia

Serangan Erwinia

Intensif

Tatang sejatinya sudah mencegah dan mengendalikan kedua penyakit itu. Untuk mencegah serangan cendawan, misalnya, ia rutin menyemprotkan fungisida berbahan aktif mankozeb, propineb, azoksistrobin, dan difenokonazol sekali sepekan secara bergantian dengan dosis sesuai petunjuk di kemasan. Namun, jika sudah terserang penyakit, frekuensi penyemprotan fungisida menjadi dua kali seminggu setengah dosis anjuran. Ketika muncul gejala serangan bakteri, Tatang juga mengocorkan bakterisida berbahan aktif oksitetrasiklin dengan dosis yang tertera di kemasan.

Tatang memanen melon saat umur tanaman sekitar 60 hari setelah tanam (HST) dengan kondisi matang sempurna. Cirinya daun di dekat buah mengering. Pada melon golden buah siap panen jika kulit melon berwarna kuning pekat. Sementara melon berjaring berwarna hijau muda berdaging jingga siap panen bila jaring terlihat melebar.

Serangan Fusarium

Serangan Fusarium

Untuk mencegah penyakit akibat cendawan, Ade menggunakan fungisida yang mengandung unsur tembaga (Cu). Ade mengocorkan fungisida itu dua kali dalam satu periode tanam yaitu pada umur 35 hari setelah tanam (HST) dan 45 HST. Hasilnya, kondisi tanaman bisa terhindar dari penyakit itu.

Melihat upaya budidaya intensif yang Tatang lakukan, Kusuma menduga penyakit itu ditularkan melalui benih.  Oleh karena itu Kusuma menyarankan agar benih direndam dahulu dengan fungisida maupun bakterisida. “Perendaman itu untuk mematikan dan mencegah cendawan maupun bakteri yang menempel pada benih,” tuturnya. Selain itu pemilihan benih juga penting. “Jika kedua penyakit itu ditularkan melalui benih, maka pencegahan paling efektif adalah memastikan benih yang kita beli terbebas dari penyakit,” kata master bidang Mikrobiologi alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Mengapa serangan penyakit kedua jenis melon itu berbeda meski ditanam di lahan sama dan waktu bersamaan? Menurut Kusuma, penyebab serangan berbeda kemungkinan karena ketahanan kedua varietas melon terhadap sebuah penyakit berbeda pula. “Melon berkulit kuning mungkin lebih tahan terhadap cendawan, tetapi rentan terhadap bakteri.  Sebaliknya, melon berjaring lebih tahan terhadap bakteri tetapi rentan terhadap cendawan,” kata Kusuma. (Bondan Setyawan)

 

Kebun melon intensif terhindar dari serangan hama dan penyakit

Tatang Halim mengebunkan melon di Desa Korelet, Kecamatan Curug, Kota Tangerang Selatan