Luas areal tanam nanas gati di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, mencapai 80 hektar

Luas areal tanam nanas gati di Kecamatan
Cijeruk, Kabupaten Bogor, mencapai 80 hektar

Sosok buah nanas Ananas comosus itu hanya seukuran kepalan tangan orang dewasa. Setiap buah berbobot rata-rata hanya 500 g.  Begitu buah dibelah, tampak daging buah berwarna kuning cerah. Daging buah itu manis dan “juicy” sehingga menyegarkan. Pengukuran menggunakan refraktometer, tingkat kemanisan buah tanaman anggota famili Bromeliaceae itu mencapai 150 briks. Selain manis, buah itu tak meninggalkan rasa gatal sedikit pun di mulut. Padahal, konsumsi buah itu tanpa pencucian dalam air garam terlebih dahulu.

Menurut kepala Pusat Kajian Tanaman Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor (PKHT-IPB), Sobir PhD, nanas dengan tingkat kemanisan 150 briks tergolong baik. “Biasanya kadar kemanisan nanas yang dirawat alakadarnya hanya 8—110 briks,” ujar Sobir. Ia menuturkan nanas gati tergolong nanas jenis queen yang memang berukuran mungil, tapi memiliki keunggulan berasa manis. Dosen di Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor itu mengatakan kemanisan gati meningkat jika ditanam di area panas seperti Blitar, Jawa Timur.

Nanas gati, tingkat kemanisan mencapai 15o briks

Nanas gati, tingkat kemanisan mencapai 15o briks

Berbukit

Penangkar buah di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Mim Muhammad, nanas mungil dan manis itu berasal dari sentra nanas di Desa Tajurhalang, Kecamatan Cijeruk. Bersama Mim Muhammad, Trubus menuju desa yang berjarak 15 km dari Kota Bogor itu. Jalan ke sentra nanas mini itu terus menanjak. Begitu memasuki area kebun jalan hanya berupa tanah. “Jika musim hujan sulit naik hingga ke atas bukit,” ujar Mim.

Setelah menempuh perjalanan hingga ketinggian 800 m di atas permukaan laut, tampak hamparan kebun nanas di punggung bukit. Para pekebun di Desa Tajurhalang menyebutnya nanas gati.  Menurut petugas lapang Unit Pelayanan Teknis (UPT) Caringin Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Ade Abdullah, SSos, pemberian nama gati berasal dari nama kampung tempat asal-muasal nanas itu yakni Kampung Gati, Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

 Ade Abdullah mengatakan bahwa total luas areal tanam nanas gati di Kecamatan Cijeruk mencapai 80 ha yang menghampar di 3 desa, yaitu Desa Sukaharja, Cipelang, dan Tajurhalang. Ketiga desa itu lokasinya berdekatan. Sebanyak 90% kepemilikan lahan merupakan tanah garapan. Masyarakat setempat memanfaatkan tanah milik negara untuk membudiyakan  nanas, sisanya milik pribadi. Belum diketahui pasti waktu pertama kali penanaman nanas gati di ketiga desa itu. “Budidaya nanas gati sudah berlangsung turun-temurun sejak 1970-an,” ujarnya. Para pekebun nanas tergabung dalam 7 kelompok tani yang masing-masing beranggotakan 20 pekebun.

Di kebun seluas 1.000 m2 milik Mida,  beberapa tanaman tengah berbuah dan siap panen. Ukuran buah memang hanya sekepalan tangan.  Menurut Ade bobot buah nanas gati sebetulnya bisa mencapai 1,3 kg per buah. “Buah seukuran itu biasanya muncul pada buah perdana,” ujar Ade. Pada buah berikutnya ukuran nanas mengecil karena pekebun membiarkan anakan nanas tumbuh banyak, sementara pasokan nutrisi terbatas hanya dari serasah.

Menurut pekebun nanas gati di Desa Tajurhalang, Kanta, para pekebun enggan memupuk tambahan seperti NPK dan Urea karena menambah pengeluaran. Mereka juga tidak menambahkan pupuk kandang karena sulit mengangkutnya ke kebun yang berada di atas bukit. “Jalannya masih jelek dan menanjak,” katanya. Sebagai sumber nutrisi, ia hanya mengandalkan daun nanas yang dicacah ketika sehabis panen dan hasil siangan rumput. Daun nanas dan rumput itu nantinya membusuk dan terurai menjadi sumber nutrisi organik.

Budidaya organik

Dengan pola budidaya tanpa pupuk dan pestisida, nanas gati itu termasuk buah organik. “Jadi nanas dari sini boleh dikatakan murni organik,” ujar Mim Muhammad. Di kebun Mida nanas tumbuh berderet rapi dalam beberapa lajur bedengan. Jarak antarlajur sekitar 1 m. Sementara jarak tanam antartanaman pada satu lajur lebih rapat, yakni hanya 50 cm. Pada masing-masing lajur tanaman tampak rapat karena Mida membiarkan tumbuh setiap anakan yang muncul.

“Dalam satu rumpun bisa muncul 7—13 anakan,” ujar pria yang juga ketua rukun warga (RW) itu. Itulah sebabnya dari populasi saat awal penanaman untuk lahan 1.000 m2 sebanyak 1.000 tanaman, maka pada musim berbuah berikutnya jumlah produksi bisa berlipat karena tanaman beranak-pinak. Sejak muncul anakan hingga panen buah nanas berwarna kekuningan itu perlu waktu 1 tahun. Ciri buah matang jika kulit buah berwarna kuning cerah.

“Buah sebetulnya bisa dipanen saat warna kulit mulai bersemburat kuning. Tapi lebih manis lagi kalau seluruhnya berwarna kuning,” ujar Mida. Saat itu pada akhir November 2013 memang tengah musim panen raya.  “Di sini panen nanas dua kali setahun, yakni pada November dan Juli, paling banyak pada November,” ujar Mida. Dari kebun Mida yang tanamannya sebagian besar berumur 7 tahun, pria paruh baya itu memanen rata-rata 5.000 buah nanas.

Ia menjual hasil panen ke para pengepul buah. “Harga jual saat panen raya hanya Rp1.000 per buah,” ujarnya. Bagi Mida harga jual itu masih menguntungkan. Itu karena ia tak pernah memberikan pupuk tambahan. Bagi warga Desa Tajurhalang, budidaya nanas gati memang bukan penghasilan utama. “Sebagian besar warga Desa Tajurhalang berdagang atau wirausaha lain. Sebagai sampingan kami memelihara sapi perah dan berkebun nanas gati,” ujar Etong, pekebun yang mengelola kebun nanas gati di lahan 2.000 m2.

Mereka mengebunkan nanas untuk memanfaatkan lahan bekas perkebunan teh milik negara. “Perawatan nanas mudah, tidak disiram dan dipupuk pun masih bisa bertahan hidup dan berbuah. Yang penting rumput harus sering disiangi,” ujar Etong. Sayangnya pasar nanas gati sebagian besar masih mengandalkan pasar tradisional di Kota Bogor. Menurut pengepul nanas gati di Desa Tajurhalang, Aan, hasil panen nanas biasanya dijual di lapak-lapak buah dan industri asinan. “Beberapa konsumen perorangan ada yang memesan langsung, tapi jumlahnya hanya sedikit,” ujarnya. Pada saat panen raya, dalam sehari Aan bisa menjual 600 buah nanas gati.

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor terus berupaya mengembangkan nanas gati agar lebih populer di tanahair. Salah satunya dengan melepasnya menjadi varietas unggul dengan nama nanas mahkota. “Kami juga berupaya mempertemukan petani dengan pengusaha buah seperti pemasok pasar swalayan dan memberikan bantuan bibit dan pupuk. Pada 2010 luas tanam bertambah 25% dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” ujar Ade. (Imam Wiguna/Peliput: Pressi Hapsari Fadlillah)