//
 //
//
//
 

jambu air dengan buah merah nan lebat di pot?

 

Tabulampot jambu air di kediaman Haryoko di Dusun Krasakan, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta, itu begitu menggoda siapa pun yang melihatnya. Pada tanaman buah dalam pot (tabulampot) setinggi dada orang dewasa itu bergelayut 9 buah jambu air berwarna merah pekat seukuran kepalan tangan orang dewasa.

Haryoko menyebutnya jambu air cakra mas. Redaksi Trubus sempat mencicipi buah cakra mas dari buah yang diperoleh dari Handry Chuhairy, kolega di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Handry mendapat kiriman buahnya dari Haryoko. Cita rasa buah Syzygium samarangense itu manis dengan tekstur renyah dan kandungan air banyak. Sosok buah menarik dengan bentuk segitiga sama sisi berwarna merah pekat. Daging buah tebal.

Menurut Haryoko sejatinya cakra mas keturunan dari pohon induk jambu air dalhari. Yang disebut terakhir jambu air istimewa dari Berbah yang sudah dirilis sebagai varietas unggul nasional (baca: Ketika Berbah Banjir Merah, Trubus edisi Februari 2007). Hanya saja buah yang didapat Trubus dari pohon milik Dalhari berwarna merah cerah. Cakra mas berwarna merah pekat. Haryoko memang tidak memperoleh bibit langsung dari pohon induk milik Dalhari. Bibit didapat dari tanaman induk milik Slamet yang juga tinggal di Dusun Krasakan.

Mudah berbuah

Meski demikian ciri-ciri fisik tanaman sama. Misal daun keduanya bergelombang di bagian ujung. Menurut Hendro Soenarjono, ahli buah di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, perbedaan warna buah dalhari wajar saja terjadi meski masih dalam satu keturunan. “Faktor tempat tumbuh, media, dan perlakuan bisa mempengaruhi warna buah,” kata mantan Kepala Kebun Penelitian Cipaku, Kementerian Pertanian itu.

Haryoko memilih menanam turunan dalhari itu di dalam pot. Tujuannya supaya hobiis tertarik mengoleksi tanaman anggota famili Myrtaceae itu. Sebab selama ini di daerah asal hampir semua pekebun menanam dalhari di tanah. Dengan tabulampot, tanaman jadi mudah dipindah-pindah. Penampilannya yang sedang berbuah lebat pun menjadi istimewa.

Hasil penelusuran Trubus ke beberapa penangkar dan kolektor tanaman buah, tabulampot jambu air dalhari masih jarang. “Kami baru mengoleksi bibit dalhari, itu pun jumlahnya baru satu,” tutur Ir AF Margianasari, kepala Bagian Pelatihan, Produksi, dan Penelitian di Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Menurut Prakoso Heryono, kolektor dan penangkar buah di Demak, Provinsi Jawa Tengah, pamor dalhari belum seperti jambu air delima dan citra. Namun, dalhari memang menarik dengan warna buah yang memikat dan bobot buah mencapai 150 gram. Di Berbah, ketua Asosiasi Jambu Air Dalhari Sembada, Misran, sejak setahun terakhir mulai membuahkan 30 dalhari dalam pot drum.

Pengalaman Haryoko cakra mas relatif mudah dibuahkan di dalam pot. Pekebun jambu dalhari itu menggunakan media tanam berupa campuran tanah, kompos, dan kotoran kambing dengan perbandingan 1:2:1. “Media tanam harus porous,” katanya. Sebagai sumber nutrisi, Haryoko rutin menambahkan pupuk kompos hasil olahan sendiri berupa daun dan ranting dari kebun yang dikomposkan dalam lubang di tanah hingga lapuk dan berwarna kehitaman.

Pupuk kompos ditambahkan saat mengganti media tanam. Haryoko mengeluarkan sebagian tanah, lalu menambahkan tanah baru yang telah dicampur kompos dengan perbandingan 1 : 1. Penggantian media tanam dilakukan 2-3 kali dalam setahun. Pria 44 tahun itu hanya memberikan ½ sendok teh per tanaman pupuk NPK dengan frekuensi setahun sekali. Ia lebih menyukai penggunaan pupuk organik. Penyiraman cukup ketika media tanam mulai kering. Penyiraman lebih sering ketika tanaman mulai memunculkan tunas bunga. Bila kekurangan air, bunga berisiko rontok.

Bungkus

Cakra mas berbuah pada Juli-September. Pada saat berukuran pentil Haryoko mulai menyeleksi buah untuk mendapatkan buah berukuran besar. Dalam satu dompol, ia hanya menyisakan maksimal 7 buah. Buah dibungkus menggunakan plastik transparan untuk mencegah serangan lalat buah.

Saat buah seukuran kancing, Haryoko mengurangi penyiraman dari sekali sehari menjadi 2 hari sekali. Saat pembesaran buah sekitar 3 sampai 4 minggu sebelum panen, intensitas penyiraman kembali ditingkatkan. “Pada kondisi itu kebutuhan air meningkat. Jika sampai kekurangan air dapat menyebabkan ukuran buah kecil atau rontok,” ujar Haryoko.

Menurut Eddy Soesanto, penangkar tanaman buah di Parung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, jambu air bisa berbuah lebih lebat di dalam pot bila Haryoko melakukan perompesan daun untuk merangsang berbunga. “Buang daun dan hanya sisakan daun di bagian pucuk,” kata pemilik nurseri Tebuwulung itu. Perangsangan bunga bisa juga dengan cara mengurangi penyiraman atau melakukan stres air. Penghentian penyiraman paling lama dilakukan selama 14 hari. Namun, pastikan saat perlakuan itu tanaman betul-betul sehat.

AF Margianasari sepakat bahwa, pengurangan jumlah daun dapat memicu pertumbuhan bunga sehingga tabulampot jambu air berbuah lebat. Supaya ukuran buah jumbo, lakukan seleksi buah. Sementara Misran menyemprot hormon pemacu pembungaan untuk membuahkan dalhari dalam pot. Dengan teknik tepat tabulampot jambu air dalhari nan lebat bukan sekadar impian. (Rona Mas’ud)

 http://www.trubus-online.co.id/index.php/tulisan-lain/buah/6451-dalhari-lebat-dalam-pot.html