Nanas lokal calon pengganti posisi nanas impor di pasar swalayan.

“Tolong kirimkan 100  buah setiap minggu,” ujar Adi Darmadi, anggota staf bagian pembelian sebuah perusahaan penyalur buah di Jakarta Barat saat mendapat kiriman nanas baru dari pekebun di Subang, Provinsi Jawa Barat. Adi tertarik langsung memesan karena PK-1, nama nanas itu, memiliki karakteristik mirip nanas golden asal Filipina. Nanas impor yang kini banyak mengisi pasar swalayan di kota-kota besar itu memiliki warna kulit kuning mengkilat. Rasanya manis dan ukuran relatif seragam.

PK-1 setali tiga uang. Warna kulit buah saat matang dominan kuning dengan sedikit corak hijau. Bobot 1.700 g per buah. Ukuran mahkota buah kecil dan seragam. Aroma khas nanas nan menyegarkan menguar kuat meskipun nanas belum dikupas. Ketika buah dibelah terlihat warna daging buah kuning merata.

Manis merata

Rasa manis menyergap lidah begitu kita membenamkan gigi pada daging buah yang lembut dan tidak terlalu berair. Saat diukur menggunakan refraktometer, tingkat kemanisan buah mencapai 19o briks. Itu lebih tinggi daripada nanas lain yang rata-rata hanya 14o briks. Istimewanya lagi, rasa manis tercecap di semua bagian buah, dari ujung ke pangkal. Lazimnya semakin ke ujung, kadar kemanisan nanas semakin rendah.

Keunggulan lain, kandungan kalsium oksalat pada daging buah PK-1 rendah sehingga tidak menyebabkan gatal. ”Bentuk buah silindris dan mata buah dangkal,” ujar Kepala Pusat Kajian Holtikultura Tropika (PKHT), Institut Pertanian Bogor, Sobir PhD. Bentuk buah yang silindris membuat nanas itu mudah untuk disusun dalam kardus saat pengangkutan. Mata buah yang dangkal memudahkan konsumen untuk mengupas dan mengurangi daging buah yang terbuang. Dengan begitu porsi buah yang dapat dikonsumsi lebih banyak. “Karakter nanas itu mendekati ciri yang diminta pasar internasional,” ujar Sobir.

Dengan kualitas seperti itu Adi yakin PK-1 bisa masuk dan menempati rak pajang pasar swalayan dengan mudah. Lazimnya untuk mengetahui respon konsumen pihak pasar swalayan melakukan tes pasar dengan cara memajang sampel. Tes pasar berlangsung selama sepekan untuk buah lokal yang sudah dikenal dan sebulan untuk buah yang belum banyak dikenal orang. Selama tes pasar pemasok harus menjaga kualitas dan kuantitas buah. “Yang paling penting kontinuitas buah harus terjamin,” kata Adi.

Jika tingkat penjualan selama tes pasar terus meningkat, barulah pesanan dibuat. Tahapan itu juga yang nanti akan dilalui PK-1. “Saya yakin PK-1 akan menarik banyak konsumen karena berbagai keunggulan itu,” tutur Adi. Ia pun tak ragu mematok harga nanas PK-1 sama dengan nanas golden yang dua kali lipat lebih tinggi daripada nanas lokal. Sayangnya, PK-1 belum bisa mengisi gerai di pasar swalayan dalam waktu dekat. Selain karena ketersediaan benihnya masih terbatas, juga belum resmi didaftarkan untuk komersialisasi.

Nanas Pasirkuda

Nanas PK-1 merupakan varietas teranyar dari PKHT. Nama itu merujuk pada kebun pengembangan nanas PKHT di Desa Pasirkuda, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat. Nanas PK-1 lahir dari hasil persilangan induk nanas introduksi dari berbagai negara seperti Jerman, Jepang, dan Thailand. Sobir mulai melakukan penyilangan pada 2003. Ia melakukan sekitar 400 kali penyilangan hingga lahirnya PK-1.

Tim peneliti dan Sobir membutuhkan 7 tahun untuk menghasilkan PK-1. “Waktu 7 tahun relatif ideal untuk mendapatkan varietas unggul,” ujar Sobir. Sebab varietas unggul tersebut didapat melalui perkawinan silang dan penanaman biji berkali-kali. Umur panen nanas asal biji misalnya mencapai 28 bulan pascatanam, jika dari bibit asal mahkota buah hanya butuh rata-rata 18 bulan. Oleh karena itu memang butuh waktu lama untuk mendapatkan varietas unggul.

Jika dilihat dari karakteristik PK-1, nanas unggul itu merupakan perpaduan karakter smooth cayenne dan queen. Yang disebut pertama mewariskan daun mahkota tanpa duri. Sementara warna daging buah yang kuning merata berasal dari queen. Mahkota tak berduri disukai konsumen karena tidak akan melukai tangan saat memilih di pasar swalayan.

Untuk membuktikan kestabilan sifat PK-1, Sobir menanam Ananas comosus itu di Desa Bunihayu, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Ia bekerjasama dengan Narli, pekebun nanas setempat. Narli tidak merasa ragu saat Sobir mengajukan PK-1 untuk ditanam. “Saya merasa tertantang dan ingin membuktikan keunggulan nanas ini,” ucap Narli. Pria kelahiran Majalengka itu menanan 500 bibit nanas asal mahkota setinggi 20-25 cm di lahan 700 m2 dengan jarak tanam 40 cm x 50 cm. Itu jarak tanam yang lazim dilakukan pekebun nanas. “Jika menghendaki buah berukuran jumbo, gunakan jarak tanam lebar,” kata Sobir.

Subang cocok

Sebelum penanaman bibit, Narli memberikan 1 kg pupuk kandang per lubang tanam sebagai pupuk dasar. Tiga bulan setelah tanam ia memberikan 5 g per tanaman pupuk NPK. Narli mengulangi pemberian pupuk yang sama dengan dosis 10 g per tanaman saat tanaman berumur 6 bulan dan pada pemupukan terakhir ketika nanas berumur 9 bulan. Delapan belas bulan setelah tanam, nanas siap panen. Dari 500 tanaman Narli memanen 850 kg nanas PK-1. Setiap tanaman anggota Bromeliaceae itu rata-rata menghasilkan 1,7 kg buah. “Sebanyak 50 nanas mencapai bobot 2,7 kg,” ujar Narli. Menurut Sobir pertumbuhan nanas jumbo itu karena pemberian hara melimpah.

Hasil panen itu membuktikan PK-1 cocok dengan lahan di Subang. Namun, ibarat pepatah tak ada gading yang tak retak. Di kebun Narli sebanyak 1-5% tanaman nanas PK-1 terserang penyakit. Mula-mula akarnya busuk, kemudian merembet ke buah. Sobir menduga busuk akar itu bermula dari serangan serangga penggerek akar. Luka yang menganga menjadi pintu masuk bakteri atau cendawan penyebab busuk. Untuk mengatasinya Narli mencabut tanaman yang terserang karena khawatir gejala busuk menular ke tanaman lain.

Toh batu sandungan itu tak mengurungkan niat pria 54 tahun itu untuk memperluas areal tanam PK-1. Saat ini ia tengah menyiapkan lahan 1.500 m2 untuk menanam 1.500 bibit. Kehadiran nanas PK-1 itu tentu saja menjadi kabar menggembirakan bagi jagad buah tanahair. Jika pengembangan nanas idaman dari Bogor terus berlanjut, maka tidak mustahil dapat menggusur nanas impor asal Filipina yang saat ini menguasai pasar swalayan di tanahair. (Riefza Vebriansyah)

http://www.trubus-online.co.id/index.php/tulisan-lain/buah/6415-idaman-dari-kota-hujan.html