Setahun berkenalan, Nining Suhartati pun jatuh cinta pada dua meta.

Meta yang pertama varietas melon dengan buah berbentuk lonjong, berkulit kuning mulus agak jingga tanpa jaring, dan daging buah jingga cerah. Pantas jika ada embel-embel orange alias jingga di depan namanya: orange meta.

Meta yang kedua juga jenis melon. Sama-sama berbuah bentuk lonjong dan tanpa jaring, meta kedua berkulit putih mulus. Cucumis melo itu mendapat nama sunrise meta karena semula memiliki kulit putih dengan semburat kekuningan, mirip sinar matahari terbit. Meta sendiri akronim dari melon tajur; kata terakhir merujuk pada lokasi kelahiran melon itu di salah satu sudut Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Dua cabang

Nining Suhartati dan 125 petani lain anggota Asosiasi Petani Melon Tani Manunggal Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, mengenal kedua meta pada 2008. Nining menanam keduanya di lahan seluas 2.000 m2 dengan populasi 4.000 tanaman. Selang 60 hari pascapenanaman ia menuai satu buah melon berbobot 1,5-3 kg dari setiap tanaman.

Harga beli saat itu di tingkat pekebun Rp5.000 per kg, setara dengan melon golden apollo asal Taiwan. Golden apollo salah satu jenis melon eksklusif dengan kulit kuning tapi daging buahnya putih. Bandingkan dengan harga melon biasa jenis sky rocket yang hanya Rp1.500 per kg. Harga duo meta mahal karena kualitas buah stabil. “Cita rasa buah tetap manis pada musim hujan, tidak seperti melon lain yang kemanisannya menurun,” ujar Nining. Dengan produksi total 6 ton, Nining mengantongi omzet Rp30-juta per 60 hari dari luasan seperlima ha.

Pantas Nining kembali menanam dua meta hingga 2009. Pada musim tanam berikut, ia menerapkan teknologi percabangan pada tanaman. Tujuannya supaya bisa menghasilkan buah berukuran lebih kecil sesuai permintaan pasar. Toh petani tidak merugi karena satu tanaman bisa menghasilkan 2 buah sama besar.

Menurut Nining pasar kedua melon eksklusif itu terbuka lebar. “Orange meta dan sunrise meta laku dijual ke mana saja. Kalau benih selalu ada, kami mau terus-menerus menggunakan kedua varietas itu karena hasilnya baik,” ujar Nining.

Lebih mudah

Orange meta dan sunrise meta lahir dari hasil penyilangan oleh Endang Gunawan SP MSi, Sobir PhD, dan Willy Bayuardi SP MSc dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Institut Pertanian Bogor. Varietas yang dirilis pada 2010 itu memiliki karakter buah yang kini tengah dicari oleh pasar ekskusif: berkulit mulus tanpa jaring dan berdaging jingga.

Cita rasanya sangat manis dengan kadar gula 14,8o briks. Saat gigi melumat daging buah terdengar suara kres kres kres tanda tekstur buah renyah. Aroma keduanya lembut dan tak ada aftertaste tidak enak setelah konsumsi. Buah tahan simpan hingga 20 hari. “Keduanya merupakan hasil silangan dari dua tetua galur murni sehingga sulit dipalsukan,” kata Endang. Sifat ukuran buah, rasa manis, dan tekstur renyah keduanya diturunkan dari tetua jantan yang sama.

Tanaman anggota famili Cucurbitaceae itu cocok ditanam pada ketinggian 0-400 m di atas permukaan laut (dpl), dengan hasil ideal didapat pada ketinggian 100-200 m dpl. “Misalnya di Serang dan Pandeglang (Provinsi Banten), Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu (Provinsi Jawa Barat), Magelang dan Pekalongan (Provinsi Jawa Tengah),” ujar Endang Gunawan. Kedua varietas itu relatif tahan kekeringan dan penyakit. Pada lingkungan kurang menguntungkan, misalnya di daerah yang kurang hujan, tanaman tetap dapat melakukan pengisian buah walaupun daun kering.

“Dari segi budidaya, melon tanpa jaring juga lebih mudah daripada yang berjaring,” kata Endang Gunawan. Melon butuh pengairan yang cukup saat fase pembentukan jaring. Saat pembesaran buah, pasokan air justru harus dikurangi supaya jaring terbentuk sempurna. Pada melon tanpa jaring pengaturan itu tidak diperlukan. Artinya budidaya melon tanpa jaring lebih sederhana.

Orange meta dan sunrise meta mulai berbunga 24 hari setelah tanam dan buah dipanen 35 hari kemudian atau pada hari ke-59 atau 60 setelah tanam. Umur panen itu lebih cepat 10 hari dibanding melon berjaring. Dengan panen lebih cepat, petani pun menghemat biaya perawatan, siklus hama penyakit lebih pendek, dan risiko pematangan buah terganggu musim hujan bisa diperkecil. Potensi hasil orange meta 25,8-28,5 ton per ha dengan bobot buah 1,6-2,2 kg. Potensi hasil sunrise meta 24,4-28 ton per ha dengan bobot buah 1,5-2,3 kg.

Kelahiran duo meta patut disambut baik pekebun. Maklum selama ini ketersediaan benih melon jenis eksklusif tergantung pada impor. “Perakitan benih melon di dalam negeri menjamin ketersediaan dan kesegaran benih,” ujar Endang Gunawan. Benih yang dihasilkan dapat langsung dijual tanpa perlu waktu untuk distribusi atau penyimpanan di gudang seperti benih impor. Alhasil daya perkecambahan mencapai 85%. Penyimpanan selama setahun menyebabkan daya kecambah tinggal 80%. Makin lama penyimpanan, kian turun daya perkecambahan. Selain itu harga pun  lebih terjangkau bagi petani.

Untuk menghasilkan benih orange meta dan sunrise meta secara massal PKHT menggandeng PT East West Seed Indonesia, produsen benih. “Saat ini kami sedang dalam proses perbanyakan benih,” ujar Wakrimin dari PT East West Seed Indonesia. Menurut Wakrimin sejauh ini hasil penanaman kedua varietas itu selalu baik, “Berbuah secara serentak dengan besar buah seragam.” Ia memperkirakan awal 2013 benih siap dipasarkan secara luas di seluruh Indonesia. (Susirani Kusumaputri)

http://www.trubus-online.co.id/index.php/tulisan-lain/buah/6365-jingga-mulus-impian.html