• Pulau yang menjadi sengketa itu menyimpan durian lezat tiada tara.

 

Sebatik, pulau di timur laut Pulau Kalimantan itu kadung lebih dikenal karena berita tentang sengketa tapal batas antara Indonesia dan Malaysia. Mafhum pulau seluas 24.661 ha itu memang terbagi dalam dua wilayah. Bagian selatan masuk ke Indonesia, utara Malaysia. Tak banyak yang tahu jika Sebatik surga durian bercita rasa juara.

Kunjungan pada Mei dua tahun silam sebagai juri pada kontes buah lokal Pulau Sebatik membuktikan itu. Sebanyak 68 raja buah menjadi peserta. Jumlah itu terbilang luar biasa karena Sebatik wilayah Indonesia hanya terdiri dari dua kecamatan yang dihuni 30.000-an penduduk. Bukan hanya banyak, durian-durian itu top! Rata-rata berdaging buah tebal dengan citarasa yang maknyus.

Sebut saja nanga. Durian dari Desa Seberang, Kecamatan Sebatik Utara, itu berdaging buah berwarna tembaga cerah dan 100% berbiji kempes. Rasanya manis legit seperti berlemak, tekstur dagingnya pulen dan kering. Pantaslah ia dinobatkan sebagai juara pada lomba kali itu. Durian mapiare, juara kedua dari Desa Ajikuning, Kecamatan Sebatik Tengah, tak kalah mantap.

Dari luar, Durio zibethinus itu terlihat menjanjikan dengan kulit buah hijau segar. Begitu buah dibelah tampaklah daging buah kuning menyala. Dengan warna seperti itu pongge-pongge mapiare tetap membuat orang menahan liur karena tergoda mencicipinya maklum buah disajikan dalam kemasan tanpa kulit.

Tengah tahun

Jenis lain yang enak dari Desa Ajikuning, durian bernama desa itu: ajikuning. Buah tanaman anggota famili Bombacaceae itu memiliki tampilan mirip salisun tapi warna daging buah lebih cerah dan tekstur daging lebih lembut. Jenis yang disebut terakhir durian ternama dari Kabupaten Nunukan.

Salisun, asal Desa Selisun, Kecamatan Nunukan Selatan, berbobot 2-3 kg per buah dan berbentuk cenderung bulat. Warna daging kuning tua, sangat tebal, dan bertekstur padat. Rasanya manis, legit, dan pulen. Raja buah itu dilepas sebagai varietas unggul nasional oleh Kementerian Pertanian pada 2005.

Secara administratif Sebatik berada di wilayah Kabupatan Nunukan. Sebagian mania durian mengenal kabupaten paling utara di Provinsi Kalimantan Timur itu sebagai sentra durian enak. Membeli durian di lapak buah di pasar pun tak akan membuat kita kecewa. Durian asal Sebatik di antaranya.

Durian-durian enak di Sebatik bisa kita nikmati pada Mei. Di sentra lain di Kabupaten Nunukan musim berbuah jatuh pada Juni-Juli. Sementara di sebagian besar sentra di tanahair seperti Pulau Sumatera dan Jawa biasanya jatuh pada September-Maret. “Jadi di daerah lain sedang paceklik, di sini justru sedang banyak durian,“ kata Eko Budi Santoso, SPt, kepala seksi Produksi Hortikultura, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Nunukan yang menjadi ketua panitia kontes buah-buahan Sebatik. Musim durian di Sebatik hampir bersamaan dengan awal musim durian di Thailand.

Musim buah pada tengah tahun di Sebatik terjadi karena perbedaan waktu musim kemarau dengan daerah lain. Tanaman durian terpicu berbunga jika mengalami masa kering selama 2-4 minggu. Di pulau Jawa misalnya, musim kering mulai bulan Juli, sehingga durian berbunga mulai bulan Agustus. Di Sebatik kemarau terjadi pada Januari. “Jadi pada Februari tanaman sudah mulai berbunga, pada Mei buah masak,” kata Ir Agus Priyono, ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Borneo Hijau, yang memiliki usaha pembibitan durian di Kabupaten Kutaikartanegara, Kalimantan Timur.

Ekspor

Pada April 2012 penulis kembali mengunjungi Pulau Sebatik. Tahun ini durian tidak serempak berbunga. Oleh karena itu pada April ada buah yang sudah matang, masih sekepalan tinju, bahkan ada pohon yang baru berbunga. Diduga itu karena pengaruh musim kemarau dan hujan yang tidak tegas. Dengan kondisi itu, bisa jadi tahun ini buah berlimpah sepanjang tahun. “Walaupun bukan musim durian, hampir setiap hari ada saja durian dijual di pasar,“ kata Khomsun, petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) asal Jawa yang sudah 30-an tahun bertugas di Sebatik.

Menurut ahli durian senior dari Chantabury Horticultural Research Center, Thailand, Dr Hiranpradit, di Negeri Siam musim berbuah durian bisa diatur lebih panjang dengan menanam berbagai varietas yang memiliki tipe pembungaan awal dan tipe akhir. Itu dipadu dengan pembagian penanaman di wilayah utara yang musim berbuahnya lebih awal dan selatan yang agak belakangan. Dengan begitu waktu berbunga dan berbuah tidak bersamaan.

Musim raya durian yang “abnormal” di Sebatik memberi keuntungan bagi pekebun. Ketika itu mereka tidak punya pesaing untuk memasarkan durian. Pasar pun senantiasa terbuka. Durian pun menjadi salah satu komoditas “ekspor” utama disamping kakao dan pisang. Pada puncak musim berbuah setidaknya 50 ton durian “diekspor” ke Tawau, Malaysia, setiap hari. Durian diangkut dengan perahu tongkang dari tempat-tempat pengepul produk pertanian yang disebut terminal agribisnis. “Pada puncak musim berbuah sebanyak lebih dari 20 terminal agribisnis beroperasi setiap hari di Sebatik,” kata Jumadil, ketua Gapoktan Sebatik.

Pekebun membawa durian ke terminal agribisnis pada sore hari. Durian-durian itu kemudian dikemas dengan kantong plastik berisi 10 kg per kantong pada malam hari. Besok paginya raja buah siap dikirim ke Tawau. Para “eksportir” membeli durian dari pekebun dengan harga RM3-RM4 setara Rp9.000-Rp12.000 per kg. Harga jual di Tawau mencapai RM5-RM8 (Rp15.000-Rp24.000) per kg, tergantung kualitas. Itu karena durian sebatik memang top. (Panca Jarot Santoso MSc, peneliti durian di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian)

http://www.trubus-online.co.id/index.php/tulisan-lain/buah/6420-raja-di-tapal-batas.html