Makadamia

Asal-usul kacang makadamia

Ceritanya, dulu di suatu titik di hutan hujan tropis di Queensland, Australia, ada seorang botanikus bernama Walter Hill yang sedang khawatir waktu dia melihat asistennya sedang memakan sebuah kacang dari spesies pohon yang belum lama ditemukan di hutan tersebut. Beliau pernah mendengar bahwa kacang itu beracun. Tetapi akhirnya Hill bisa bernapas lega, karena asistennya tidak sakit ataupun mati, malah mengatakan kalau kacang yang dimakannya enak. Beliau pun mencicip satu dan ternyata memang enak! Mulailah beliau menyebarkan kacang tersebut kepada teman-temannya yang sesama botanikus juga. Ferdinand von Mueller adalah salah satu rekan Walter Hill, di mana beliau yang memberikan nama untuk kacang tersebut, yaitu macadamia, yang diambil dari nama teman baiknya yaitu dr. John Macadam.

Sekitar 150 tahun kemudian, kacang makadamia terkenal di seluruh dunia. Salah satu jurnal botani mengatakan bahwa kacang makadamia sangat lezat karena rasanya unik dan lembut serta teksturnya renyah dan halus. Kacang makadamia pun menjadi hasil ladang Australia yang sukses.

 

Dari pohon hingga kacang matang

Pohon kacang makadamia sendiri memiliki 9 spesies, dan yang dapat dimakan hanya 2 spesies di antaranya, yaitu Macadamia integrifolia dan Macadamia tetraphylla. Tingginya bervariasi, mulai dari 2 meter hingga 12 meter. Pohonnya rimbun dan merupakan pohon yang memiliki daun di semua musim (evergreen tree). Kacang-kacang makadamia terlihat bergelantungan pada pohon-pohonnya. Kacang akan masak setelah 6 bulan, kemudian jatuh ke tanah. Jadi, cara memanen kacang adalah menunggunya jatuh ke tanah, bukan memetiknya. Setelah dipanen, kulit luarnya dibuang dan disortir di ladang, kemudian diangkut ke pabrik untuk dilepas kulit kerasnya, dikelompokkan menurut mutunya, dan setelah itu dikirim kepada pembeli.Kulit luarnya berserat, kulit kerasnya bundar dan berwarna cokelat, dan biji kacangnya sebesar gundu dan berwarna krem. Namun, proses mengolah kacang ini dulunya tidak semudah yang dibayangkan.

 

Masalah kacang makadamia

Yang menjadi masalah adalah kulit kerasnya yang sangat sulit dipecahkan. Orang Aborigin pernah menggunakan batu untuk memecahkannya. Kemudian pelopor perkebunan pangan, John Waldron, menggunakan palu dan landasan. Dengan alat sederhana ini, ia memecahkan sekitar 8 juta kacang dalam kurun waktu 50 tahun. Mesin pun juga pernah dicoba, namun ternyata mesin model lama malah merusak kacangnya juga. Masalah lainnya adalah masalah reproduksinya. Kacang dari pohon yang baik malah sering menghasilkan keturunan dengan kualitas yang buruk. Pencangkokan juga sudah dicoba, tetapi ternyata gagal.

Kacang makadamia yang belum diproses

 

Karena kesulitan-kesulitan ini, budidaya kacang makadamia sempat tertunda, sampai akhirnya orang Hawaii melakukan terobosan dan berhasil menemukan solusi untuk pembudidayaan kacang ini. Akhirnya, Hawaii berhasil memasok 90% kacang makadamia di dunia. Sejak itulah kacang makadamia juga sering disebut kacang Hawaii (Hawaiian nut) oleh orang Amerika.

Kemudian pada tahun 1960-an, para petani kacang di Australia mulai membudidayakan kacang ini untuk tujuan komersil dengan memanfaatkan penemuan dari Hawaii. Australia pun mulai menuai hasilnya, sekitar 50% kacang makadamia diproduksi oleh Australia. Kacang ini juga ditanam di Afrika, Amerika Tengah, dan Asia (yang pada akhirnya sampai juga ke perut kita).

 

Manfaat kacang makadamia

Selain lezat, kacang makadamia juga berguna untuk kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah yang secukupnya. Kandungan minyaknya pada umumnya lebih dari 72%, di mana kandungan ini merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan kacang penghasil minyak lainnya. Kadar lemak tak jenuhnya (lemak baik) juga lebih banyak dibandingkan dengan lemak jenuhnya. Menurut penelitian belakangan ini, konsumsi dalam jumlah sedang dapat menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida serta tekanan darah tinggi. Selain itu juga terdapat kandungan protein serta mineral lainnya seperti kalsium, fosfor, potassium, dan lain sebagainya.

Eits, ternyata tidak hanya kacangnya saja yang berguna. Kulit kacangnya yang sangat keras itu memiliki potensi untuk menghasilkan energi, atau bahan bakar, yang hampir setara dengan batu bara muda. Jadi, limbah kacang makadamia pun masih dapat berfungsi.

Begitulah cerita tentang makadamia yang lezat ini. Wah, jadi semakin ingin makan kacang makadamia nih! Tetapi berhubung kacang impor, harganya pun cukup mahal di pasar swalayan. Tidak apa-apa, siapa tahu suatu hari dapat kesempatan mencicip kacang makadamia. Nah, sekian dulu cerita tentang kacangnya. Masih ada cerita kacang-kacang yang lainnya, jadi stay tune terus ya di Goorme🙂

 

sumber: Sedarlah! edisi November 2010, Wikipedia.com