Latest Entries »

Image

Siapa sih yang tidak suka lengkeng??? Si mata naga yang memiliki aroma khas ini memang digemari kebanyakan orang! Namup permasalahanya adalah karakteristik lengkeng yang sulit berbuah. Sehingga sudah tidak asing lagi bila kita mendengar “Lengkeng merupakan tanaman yang sulit berbuah”, namun itu adalah pendapat dari orang-orang terdahulu. Kejadian itu memang saya alami sendiri lengkeng yang ayah saya tanam 15 tahun silam pun hanya sebagai penyejuk saja, belum ada manfaat ganda sebagai tujuan pertama menanam lengkeng itu adalah ingin mencicipi buah nya.

Namun kini lengkeng adalah tanaman yang sangat mudah sekali dibuahkan bahkan didalam pot sekalipun asal kita mengetahui jenis lengkeng yang memiliki karakteristik ganjah alias gampang berbuah. Berikut saya sajikan beberapa tips untuk membuahkan lengkeng dalam pot.

  1. Pemilihan Bibit.

Bila kita ingin membuat tabulmpot (Tanaman Buah Dalam Pot) sebaiknya memperhatikan bibit yang akan kita tanam. Ada beberapa jenis lengkeng dataran rendah yang recomended untuk dijadikan tabulampot.

  1. Lengkeng pingpong.

Lengkeng pingpong merupakan lengkeng yang sangat ganjah (mudah berbuah dan adaptif) karakteristik dari lengleng pingpong adalah memiliki daun yang oppal dan menggulung kebawah. Percabangannya dengan karakteristik ngelacir. Lengkeng pingpong memiliki buah sesuai namanya hampir sebesar bola pingpong, rasanyan manis dan agak becek dengan biji yang agak besar pula.

 

 

Lengkeng pingpong yang sedang berbuah.

  1. Lengkeng diamond River.

Lengkeng diamond river juga meupakan lengkeng yang mudah berbuah, daunnya panjang sekitar 10-15Cm. Percabangan yang memiliki karakteristik “menghabiskan tempat”, karena lengkeng diamond river mudah sekali bercabang, namun kurang kuat alias regas. Diamond river memiliki karakteristik buah yang wangi, becek, berair dengan biji relatif kecil bila dibandingkan dengan lengkeng pingpong

 

daun lengkeng diamond river

  1. Dan masih banyak lagi jenis jenis lain yang tidak bisa saya jelaskan satu persatu seperti :

-          Lengkeng aroma durian daun kasar

-          Lengkeng aroma durian daun halus

-          Lengkeng aroma durian pupus merah

-          Lengkeng puangrai

-          Lengkeng kristalin

Bila anda sudah mendapatkan bibit-bibit lengkeng diatas pastikan apakah lengkeng anda berasal dari biji atau hasil okulasi (untuk lebih jels mengenai bibit asal biji, sambung susu , cangkok dan sambuns pucuk insya alloh saya tulis pada post berikutnya)

  1. Pemilihan pot.

Pot untuk tabulampot bisa berasal dari Drum, Plastik atau Semen cor. Semakin tinggi bibit yang anda peroleh saya rekomendasikan untuk menggunakan pot yang mimiliki tinggi dan diameter yang lebih besar. Contoh : untuk lengkeng yang memilii tinggi 30-40cm anda bisa gunakan pot yang memiliki diameter 40-50cm. Bila bibit lebih tinggi dari itu, anda bisa gunakan pot yang memiliki diameter lebih besar dari itu.

  1. Pemilihan media

Media tanam yang baik adalah campuran tanah, pasir,skam dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1:2. Pupuk kandang yang digunakan sebaiknya meggunakan taikam/taidom (tai kambing dan Domba), yang mengandung fosfor lebih banyak. Pastikan anda gunakan sterofoam atau pecahan genting di dasar pot setinggi 4-5 cm untuk menghindari media yang basah.

 

 

  1. Penyiraman

Penyiraman yang baik dianjurkan 2 hari sekali sebanyak 1- 2 gayung saja, karena media yang terbatas. Bil berlebihan ini isa mengakibatkan akar terendam, busu, bercacing. Efeknya tanaman lengkeng bisa MATI.

  1. Pemupukan

Pemupukan sebaiknya dilakukan berkala 1 bulan sekali. Bulan pertama gunakan taikam or taodom, dan bulan berikutnya gunakan pupuk NPK 16:16:16.

  1. Pemangkasan.

Pemangkasan diperlukan untuk memperindah tajuk. Rumus pemangkasan yang baik seharusnya menggunakan pola 1:3:9. Dengan banyaknya cabang maka tempat calon bakal bunga akan banyak pula.

  1. Pencahayaan

Agar lengkeng cepat berbuah sebaiknya disimpan pada tempat yang memiliki pencahayaan 6-7 per hari.

http://belajar-berkebun.blogspot.com/2011/07/tips-membuat-lengkeng-berbuah-dalam-pot.html

LENGKENG KING LONG

Pada suatu masa radiasi dari partikel bermuatan energi tinggi yang berasal dari luar atmosfer bumi “menyentuh” sebatang pohon lengkeng. Sinar kosmik berupa elektron, proton, bahkan inti atom yang kebanyakan berasal dari proses energi tinggi di dalam galaksi itu menyebabkan perubahan di dalam “tubuh” tanaman anggota keluarga Sapindaceae itu. Lahirlah lengkeng dengan daun, tangkai daun, bunga, buah muda, dan buah matang berwarna merah.

Itu sebuah lengkeng baru yang merupakan mutasi dari jenis normal. Periset di Pusat Kajian Hortikultura Tropis Institut Pertanian Bogor (PHKT IPB), Prof Dr Ir Roedhy Poerwanto, menyebutnya fenomena bud spot, yakni mutasi pada mata tunas dari induk normal. Mutasi akibat pengaruh alam semesta itu menyebabkan warna resesif merah pada lengkeng muncul ke permukaan.

Kehadiran lengkeng merah itu diprediksi mampu memikat para pencinta tanaman buah. Mereka tertarik memiliki ruby longan karena kerabat leci itu punya sejumlah keistimewaan. Selain warna yang atraktif, lengkeng merah itu adaptif di dataran rendah serta mudah berbunga dan berbuah. Cocok sebagai tanaman koleksi para pehobi. Tidak tertutup peluang upaya pengembangannya sebagai buah komersial, tapi butuh waktu lebih lama. Pilihan untuk jenis komersial boleh jadi lebih tepat dijatuhkan pada king long, lengkeng yang sangat produktif. Buahnya berdompol-dompol dan sangat padat.

http://www.trubus-online.co.id/tru/wp-content/uploads/2014/05/534_-8-6.jpg

Stek Zaitun

 

Perbanyakan zaitun dengan setek lebih cepat, 21 hari siap tanam. Tingkat keberhasilan 80%.

Demam menanam zaitun di tanahair membuat penangkar bibit getol memperbanyak Olea eoropaea itu. Mereka memperbanyak tanaman lambang perdamaian itu dengan setek dan cangkok. Sayang, hampir semua penangkar mengeluh sulit memperbanyak zaitun. Tengoklah pengalaman Fendi Salim di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang memperbanyak zaitun dengan cangkok. Ia menggunakan batang berdiameter 0,5 cm dengan media tanam sekam bakar dan sedikit tanah merah.

 

Fendi Salim mempertahankan kelembapan media 60%. Saat mencangkok ia menutup rapat media dengan plastik untuk mencegah penguapan. Akar tumbuh dan cangkokan siap dipindahkan ke lahan pada bulan ke-2. Fendi tiga kali mencangkok zaitun dari satu induk. Diameter batang terlampau kecil menjadi kendala sehingga tingkat keberhasilannya hanya 40%.

Proses Bertahap

Penangkar bibit di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Romia Satria Agung, berhasil menyetek zaitun. Dalam 21 hari setek pohon perdamaian itu siap tanam. Tingkat keberhasilan perbanyakan dengan setek mencapai 80%. Ia memanfaatkan gelas kemasan air minum, jaring, dan sungkup plastik ultraviolet berukuran 3 m x 4 m.  Namun, jalan sukses itu tidak diraih dalam sekejap. Romia 10 kali menguji coba hingga akhirnya berhasil.

Ia menggunakan plastik ultraviolet dan dua lapis jaring untuk menutupi ruang pengabutan berukuran 3 m x 4 m berkerangka besi. Tujuannya untuk mengurangi intensitas sinar matahari. Ruang itu untuk merawat setek sampai keluar akar pada percobaan pertama ia mengambil 500 setek dari 20 induk. Tinggi setek 10 cm.  Media  menggunakan busa basah berukuran 10 cm x 10 cm x 10 cm. Percobaan pertama gagal, tak satu pun setek berakar.

Romia masih penasaran sehingga ia melakukan percobaan kedua. Metode sama dan 10% berhasil tumbuh. Pada eksperimen ketiga, pria yang tinggal di Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, itu sukses menumbuhkan setek. Tingkat keberhasilan 40%. Bahkan, sejak percobaan ke-4 hingga ke-10 tingkat keberhasilan hingga 80%. “Kuncinya, menggunakan batang berukuran 15—20 cm dari bagian ujung pasti berhasil. Bagian pucuk dipotong sepanjang 2 cm. Semakin ke bawah, tingkat keberhasilannya rendah,” ujarnya.

Selain itu, pemotongan batang harus menggunakan silet tajam. Penggunaan gunting merusak ujung batang tempat munculnya akar. Setelah memotong batang, ia merendam pangkal batang dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh (ZPT) selama 10 menit. Romia kemudian meniriskan calon setek itu dan menancapkannya di media tanam busa di dalam gelas air kemasan. Pada 21—30 hari berselang, setek pun berakar.

Di ruang pengabutan penyiraman diatur setiap 15 menit selama 25—30 detik untuk menjaga kelembapan tanah. Romia lantas memindahkan tanaman berakar ke pot berdiameter 10 cm. Media tanam dalam pot itu berupa campuran sekam bakar dan tanah merah dengan perbandingan 3 : 2. Selama 3—4  pekan, ia meletakkan pot-pot itu di tempat teduh. Ketika itulah ia memberi pupuk NPK mutiara berkonsentrasi dua sendok per liter air.

Pada bulan ketiga ia meletakkan hasil setek di bawah sinar matahari sepanjang pagi. Ia mempertahankan perlakuan itu selama 1,5 bulan. Menurut Romia, selama proses aklimatisasi populasi setek turun hingga 10%. Ia juga memberikan pupuk daun dan kotoran kambing. Perbanyakan zaitun dengan setek juga dipakai Benara Nurseries di Karawang, Jawa Barat. “Tiga tahun terakhir kami mengembangkan zaitun jenis correggiolo,  frantoio,  mannzaillo, nevadilo, dan blanco,” kata Manager Produksi Benara, Ir Muhammad Yusuf Siregar.

Umur sedang

Untuk memperbanyak zaitun, Yusuf menggunakan batang hijau sepanjang 10 cm, tidak terlalu tua, dan tidak terlalu muda. Batang kaku menandakan tua sedangkan bagian pucuk—kira-kira 2 cm—dipotong.  Ia mengolesi setiap pangkal setek dengan ZPT dan diletakkan dalam ruang pengabutan. Selain itu ia mengurangi daun untuk memperkecil penguapan. Yusuf memanfaatkan sekam, pasir, serbuk sabut kelapa dengan perbandingan 3 : 1 : 2 sebagai media.

Tiga sampai lima pekan kemudian akar muncul dan tanaman siap dipindahkan ke pot majemuk dengan intensitas sinar matahari 50%. Keberhasilan teknik setek di Benara mencapai 80%. “Apabila keberhasilan setek kurang dari 70% berturut-turut dan semakin menurun artinya perlu regenerasi induk baru,” kata Yusuf. Ia memberikan pupuk NPK setiap dua pekan dengan dosis sesuai merek. Apabila terserang hama, ia menyemprotkan pestisida dua kali dalam sepekan.

Menurut dosen Jurusan Biologi, Universitas Brawijaya, Malang, Ir Retno Mastuti, MAg Sc DAg Sc, menyetek  dilakukan dengan menggunakan bagian ranting dekat pucuk. Lalu saat menanam ke media potong pucuk sepanjang 2 cm. Tujuannya supaya tidak terjadi penguapan berlebih. Secara alami bagian pucuk memproduksi hormon auksin untuk membentuk akar.  Karena pucuk dihilangkan maka untuk menggantikan kebutuhan hormon yang menginduksi akar perlu mengoleskan atau merendam bagian bawah potongan dengan ZPT.

Doktor Biologi alumnus Universitas Nagoya, Jepang, itu menuturkan penggunaan bagian dekat dengan pucuk sebagai bahan setek sudah tepat sebab sesuai arah transport auksin dari tunas ke arah pangkal akar “Jarak itu lebih dekat dengan sumber sintesis auksin,” kata Retno. Penggunaan batang jauh dari pucuk masih dapat dilakukan. Namun, tingkat keberhasilannya lebih rendah dibandingkan setek pucuk. (Lutfi Kurniawan)

 

Gati Kecil Gati Manis

Luas areal tanam nanas gati di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, mencapai 80 hektar

Luas areal tanam nanas gati di Kecamatan
Cijeruk, Kabupaten Bogor, mencapai 80 hektar

Sosok buah nanas Ananas comosus itu hanya seukuran kepalan tangan orang dewasa. Setiap buah berbobot rata-rata hanya 500 g.  Begitu buah dibelah, tampak daging buah berwarna kuning cerah. Daging buah itu manis dan “juicy” sehingga menyegarkan. Pengukuran menggunakan refraktometer, tingkat kemanisan buah tanaman anggota famili Bromeliaceae itu mencapai 150 briks. Selain manis, buah itu tak meninggalkan rasa gatal sedikit pun di mulut. Padahal, konsumsi buah itu tanpa pencucian dalam air garam terlebih dahulu.

Menurut kepala Pusat Kajian Tanaman Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor (PKHT-IPB), Sobir PhD, nanas dengan tingkat kemanisan 150 briks tergolong baik. “Biasanya kadar kemanisan nanas yang dirawat alakadarnya hanya 8—110 briks,” ujar Sobir. Ia menuturkan nanas gati tergolong nanas jenis queen yang memang berukuran mungil, tapi memiliki keunggulan berasa manis. Dosen di Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor itu mengatakan kemanisan gati meningkat jika ditanam di area panas seperti Blitar, Jawa Timur.

Nanas gati, tingkat kemanisan mencapai 15o briks

Nanas gati, tingkat kemanisan mencapai 15o briks

Berbukit

Penangkar buah di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Mim Muhammad, nanas mungil dan manis itu berasal dari sentra nanas di Desa Tajurhalang, Kecamatan Cijeruk. Bersama Mim Muhammad, Trubus menuju desa yang berjarak 15 km dari Kota Bogor itu. Jalan ke sentra nanas mini itu terus menanjak. Begitu memasuki area kebun jalan hanya berupa tanah. “Jika musim hujan sulit naik hingga ke atas bukit,” ujar Mim.

Setelah menempuh perjalanan hingga ketinggian 800 m di atas permukaan laut, tampak hamparan kebun nanas di punggung bukit. Para pekebun di Desa Tajurhalang menyebutnya nanas gati.  Menurut petugas lapang Unit Pelayanan Teknis (UPT) Caringin Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Ade Abdullah, SSos, pemberian nama gati berasal dari nama kampung tempat asal-muasal nanas itu yakni Kampung Gati, Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

 Ade Abdullah mengatakan bahwa total luas areal tanam nanas gati di Kecamatan Cijeruk mencapai 80 ha yang menghampar di 3 desa, yaitu Desa Sukaharja, Cipelang, dan Tajurhalang. Ketiga desa itu lokasinya berdekatan. Sebanyak 90% kepemilikan lahan merupakan tanah garapan. Masyarakat setempat memanfaatkan tanah milik negara untuk membudiyakan  nanas, sisanya milik pribadi. Belum diketahui pasti waktu pertama kali penanaman nanas gati di ketiga desa itu. “Budidaya nanas gati sudah berlangsung turun-temurun sejak 1970-an,” ujarnya. Para pekebun nanas tergabung dalam 7 kelompok tani yang masing-masing beranggotakan 20 pekebun.

Di kebun seluas 1.000 m2 milik Mida,  beberapa tanaman tengah berbuah dan siap panen. Ukuran buah memang hanya sekepalan tangan.  Menurut Ade bobot buah nanas gati sebetulnya bisa mencapai 1,3 kg per buah. “Buah seukuran itu biasanya muncul pada buah perdana,” ujar Ade. Pada buah berikutnya ukuran nanas mengecil karena pekebun membiarkan anakan nanas tumbuh banyak, sementara pasokan nutrisi terbatas hanya dari serasah.

Menurut pekebun nanas gati di Desa Tajurhalang, Kanta, para pekebun enggan memupuk tambahan seperti NPK dan Urea karena menambah pengeluaran. Mereka juga tidak menambahkan pupuk kandang karena sulit mengangkutnya ke kebun yang berada di atas bukit. “Jalannya masih jelek dan menanjak,” katanya. Sebagai sumber nutrisi, ia hanya mengandalkan daun nanas yang dicacah ketika sehabis panen dan hasil siangan rumput. Daun nanas dan rumput itu nantinya membusuk dan terurai menjadi sumber nutrisi organik.

Budidaya organik

Dengan pola budidaya tanpa pupuk dan pestisida, nanas gati itu termasuk buah organik. “Jadi nanas dari sini boleh dikatakan murni organik,” ujar Mim Muhammad. Di kebun Mida nanas tumbuh berderet rapi dalam beberapa lajur bedengan. Jarak antarlajur sekitar 1 m. Sementara jarak tanam antartanaman pada satu lajur lebih rapat, yakni hanya 50 cm. Pada masing-masing lajur tanaman tampak rapat karena Mida membiarkan tumbuh setiap anakan yang muncul.

“Dalam satu rumpun bisa muncul 7—13 anakan,” ujar pria yang juga ketua rukun warga (RW) itu. Itulah sebabnya dari populasi saat awal penanaman untuk lahan 1.000 m2 sebanyak 1.000 tanaman, maka pada musim berbuah berikutnya jumlah produksi bisa berlipat karena tanaman beranak-pinak. Sejak muncul anakan hingga panen buah nanas berwarna kekuningan itu perlu waktu 1 tahun. Ciri buah matang jika kulit buah berwarna kuning cerah.

“Buah sebetulnya bisa dipanen saat warna kulit mulai bersemburat kuning. Tapi lebih manis lagi kalau seluruhnya berwarna kuning,” ujar Mida. Saat itu pada akhir November 2013 memang tengah musim panen raya.  “Di sini panen nanas dua kali setahun, yakni pada November dan Juli, paling banyak pada November,” ujar Mida. Dari kebun Mida yang tanamannya sebagian besar berumur 7 tahun, pria paruh baya itu memanen rata-rata 5.000 buah nanas.

Ia menjual hasil panen ke para pengepul buah. “Harga jual saat panen raya hanya Rp1.000 per buah,” ujarnya. Bagi Mida harga jual itu masih menguntungkan. Itu karena ia tak pernah memberikan pupuk tambahan. Bagi warga Desa Tajurhalang, budidaya nanas gati memang bukan penghasilan utama. “Sebagian besar warga Desa Tajurhalang berdagang atau wirausaha lain. Sebagai sampingan kami memelihara sapi perah dan berkebun nanas gati,” ujar Etong, pekebun yang mengelola kebun nanas gati di lahan 2.000 m2.

Mereka mengebunkan nanas untuk memanfaatkan lahan bekas perkebunan teh milik negara. “Perawatan nanas mudah, tidak disiram dan dipupuk pun masih bisa bertahan hidup dan berbuah. Yang penting rumput harus sering disiangi,” ujar Etong. Sayangnya pasar nanas gati sebagian besar masih mengandalkan pasar tradisional di Kota Bogor. Menurut pengepul nanas gati di Desa Tajurhalang, Aan, hasil panen nanas biasanya dijual di lapak-lapak buah dan industri asinan. “Beberapa konsumen perorangan ada yang memesan langsung, tapi jumlahnya hanya sedikit,” ujarnya. Pada saat panen raya, dalam sehari Aan bisa menjual 600 buah nanas gati.

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor terus berupaya mengembangkan nanas gati agar lebih populer di tanahair. Salah satunya dengan melepasnya menjadi varietas unggul dengan nama nanas mahkota. “Kami juga berupaya mempertemukan petani dengan pengusaha buah seperti pemasok pasar swalayan dan memberikan bantuan bibit dan pupuk. Pada 2010 luas tanam bertambah 25% dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” ujar Ade. (Imam Wiguna/Peliput: Pressi Hapsari Fadlillah)

Kebun melon intensif terhindar dari serangan hama dan penyakit

Kebun melon intensif terhindar dari serangan hama dan penyakit

Penyakit melon itu membusukkan daging buah, sementara kulit buah mulus.

Pekebun melon di Muarakarang, Jakarta Utara, Tatang Halim, terkejut ketika membelah sebuah melon golden hasil panen kebunnya. “Daging buahnya busuk di dalam,” katanya. Padahal, kulit luar buah tampak mulus. “Tidak terlihat tanda-tanda buahnya rusak atau busuk, baik di buah, batang, akar, maupun daun,” kata Tatang. Ia semakin kecewa ketika mendapati penyakit itu bukan hanya menyerang 1 atau 2 buah, tapi 100 melon lain. “Ada yang di dalamnya masih keras, tapi banyak air dan bau,” kata Tatang.

Penyakit juga menyerang buah melon berdaging jingga berkulit buah hijau berjaring. Namun, gejalanya berbeda dengan yang dialami melon golden. “Ketika buah dibelah tampak daging buah seperti terdapat miselium cendawan berwarna abu-abu. Sementara buah dari luar terlihat mulus,” kata Tatang. Menurut ketua Ikatan Petani Melon Cilegon (IPMC), Ade Dwi Adedi, serangan kedua penyakit itu membusukkan buah biasanya 3—4 hari pascapanen. “Biasanya saat awal panen mulus, tapi setelah 3—4 hari kulit luar tampak kecokelatan,” ujarnya.

Tatang Halim mengebunkan melon di Desa Korelet, Kecamatan Curug, Kota Tangerang Selatan

Tatang Halim mengebunkan melon di Desa Korelet, Kecamatan Curug, Kota Tangerang Selatan

Bakteri dan cendawan

Akibat serangan kedua penyakit itu, Tatang kehilangan pendapatan hingga jutaan rupiah.  Harga jual melon yang ia tanam rata-rata mencapai Rp30.000 per buah atau sekitar Rp15.000 per kg.  “Ini pertama kalinya melon saya terserang penyakit seperti itu,” ujar pria yang mengebunkan melon sejak 2011.

Peneliti di Pusat Kajian Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor (PKHT-IPB), Jawa Barat, Kusuma Darma SP MSi, menduga penyakit pada melon golden akibat serangan bakteri Erwinia sp. “Itu terlihat dari gejala daging buah busuk, berlendir, dan kadang-kadang berbau,” ujarnya. Menurut Kusuma jika serangan itu dibiarkan dapat merugikan pekebun hingga 100% alias gagal panen.

Kusuma menduga penyakit yang menyerang melon berjaring dan berdaging buah jingga akibat serangan cendawan Fusarium sp. “Ciri-cirinya muncul miselium yang berwarna abu-abu kehijauan di dalam buah,” tutur alumnus Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor itu. Kusuma menuturkan cendawan dan bakteri lebih gencar menyerang pada musim  hujan. Kedua patogen itu menyukai kondisi lembap. “Pekebun perlu melakukan upaya pencegahan untuk menekan serangan penyakit,” kata Kusuma.

Serangan Erwinia

Serangan Erwinia

Intensif

Tatang sejatinya sudah mencegah dan mengendalikan kedua penyakit itu. Untuk mencegah serangan cendawan, misalnya, ia rutin menyemprotkan fungisida berbahan aktif mankozeb, propineb, azoksistrobin, dan difenokonazol sekali sepekan secara bergantian dengan dosis sesuai petunjuk di kemasan. Namun, jika sudah terserang penyakit, frekuensi penyemprotan fungisida menjadi dua kali seminggu setengah dosis anjuran. Ketika muncul gejala serangan bakteri, Tatang juga mengocorkan bakterisida berbahan aktif oksitetrasiklin dengan dosis yang tertera di kemasan.

Tatang memanen melon saat umur tanaman sekitar 60 hari setelah tanam (HST) dengan kondisi matang sempurna. Cirinya daun di dekat buah mengering. Pada melon golden buah siap panen jika kulit melon berwarna kuning pekat. Sementara melon berjaring berwarna hijau muda berdaging jingga siap panen bila jaring terlihat melebar.

Serangan Fusarium

Serangan Fusarium

Untuk mencegah penyakit akibat cendawan, Ade menggunakan fungisida yang mengandung unsur tembaga (Cu). Ade mengocorkan fungisida itu dua kali dalam satu periode tanam yaitu pada umur 35 hari setelah tanam (HST) dan 45 HST. Hasilnya, kondisi tanaman bisa terhindar dari penyakit itu.

Melihat upaya budidaya intensif yang Tatang lakukan, Kusuma menduga penyakit itu ditularkan melalui benih.  Oleh karena itu Kusuma menyarankan agar benih direndam dahulu dengan fungisida maupun bakterisida. “Perendaman itu untuk mematikan dan mencegah cendawan maupun bakteri yang menempel pada benih,” tuturnya. Selain itu pemilihan benih juga penting. “Jika kedua penyakit itu ditularkan melalui benih, maka pencegahan paling efektif adalah memastikan benih yang kita beli terbebas dari penyakit,” kata master bidang Mikrobiologi alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Mengapa serangan penyakit kedua jenis melon itu berbeda meski ditanam di lahan sama dan waktu bersamaan? Menurut Kusuma, penyebab serangan berbeda kemungkinan karena ketahanan kedua varietas melon terhadap sebuah penyakit berbeda pula. “Melon berkulit kuning mungkin lebih tahan terhadap cendawan, tetapi rentan terhadap bakteri.  Sebaliknya, melon berjaring lebih tahan terhadap bakteri tetapi rentan terhadap cendawan,” kata Kusuma. (Bondan Setyawan)

 

Kebun melon intensif terhindar dari serangan hama dan penyakit

Tatang Halim mengebunkan melon di Desa Korelet, Kecamatan Curug, Kota Tangerang Selatan

Mamey sapote magana bisa berbobot 2 kg lebih

Mamey sapote magana bisa berbobot 2 kg
lebih

Mamey sapote berhasil dicangkok, sehat, dan berbuah.

Eddy Soesanto jatuh cinta pada pandangan pertama. Kolektor buah di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat itu benar-benar kepincut ketika melihat foto mamey sapote jenis magana pada 2010. “Ukurannya bisa 2 kg lebih, lebih besar daripada jeni keywest yang hanya sekitar 1,3 kg,” kata Eddy.

Setelah melihat foto magana, ia mencari ke para kolektor buah. Pencarian selama kurang lebih 6 bulan itu membuahkan hasil. Eddy menemukan magana di halaman rumah seorang kolektor buah di Jawa Barat. Sayang pemilik magana tak menjual pohon itu. Namun, Eddy tak putus asa, ia berusaha untuk mendapatkan bibitnya. Penangkar bibit buah itu bernegosiasi sehingga sang empunya akhirnya membolehkan Eddy mencangkok pohon induk.  Syaratnya, Eddy mesti menyerahkan beberapa hasil cangkokan yang sehat. Namun, seperti dugaan Eddy, “Mencangkok mamey sapote tak semudah mencangkok tanaman buah lain seperti jambu, lengkeng, atau sawo biasa,”

Eddy Soesanto dengan pohon indukan mamey sapote magana

Eddy Soesanto dengan pohon indukan
mamey sapote magana

Cangkokan ke-3

Eddy mencangkok mamey itu di cabang horizontal berdiameter 2—5 cm. Ia mencangkok 10 batang. “Saya menggunakan media tanah saja tanpa pupuk. Karena saya khawatir pupuk itu malah membuat cangkokan berjamur,” ujarnya.

Setelah 3 bulan, cangkokan berakar. Namun, Eddy bersabar menunggu hingga akar cangkokan lebih banyak.  Dua bulan berselang akar maksimal dan Eddy memotong cabang dari pohon induk. Ia merobek sedikit bungkus cangkokan, mencelupkan akar cangkok mamey itu ke dalam hormon perangsang tumbuh dengan konsentrasi 5 ml per liter. “Dirobek sedikit biar hormon bisa terserap,” kata Eddy.

Setelah ditiriskan, Eddy lalu menanamnya di polibag dengan media sekam, tanah dan pupuk kandang perbandingan 1 : 1 : 1.

Ia menyiram dua hari sekali. Pohon itu diletakkan di tempat teduh hingga muncul tunas atau sekitar 1,5 bulan. Kemudian setelah bertunas, Eddy pun memindahkannya ke tempat panas atau tanpa naungan. “Sekitar 3—4 bulan, semua cangkokan mati,” kata Eddy. Ia menduga pohon masih belum sehat.

Angin kencang

Eddy tak patah arang. Ia kembali mencangkok pohon induk berumur sekitar 20-an tahun itu sebanyak 3 cangkok. Proses pada cangkokan pertama Eddy ulangi. Namun, ia tak terburu-buru memindahkan cangkokan di lahan langsung, Eddy menunggu sekitar 3 bulan hingga daun kecil menjadi remaja dengan panjang daun sekitar 15 cm.

Eddy lalu memindahkan ke tempat yang lebih netral antara teduh dan panas seperti di bawah pepohonan. Setelah 2 bulan, panjang daun menjadi sekitar 20-an cm. Eddy lalu memindahkan ke lahan langsung dengan lubang tanam 1 m x 1 m x 1 m. Ia juga menambahkan 30—an kg pupuk kandang dan 0,5 kg pupuk NPK per pohon.

Berhasil? Lagi-lagi Eddy gagal. Pohon itu terkena angin besar dan hujan deras. “Pohonnya mati karena banyak akar yang putus ketika pohon tertiup angin kencang,” katanya. Untuk ketiga kalinya, Eddy mencoba lagi. Kali ini ia benar-benar memperhatikan setiap langkah untuk memperbanyak mamey sapote magana itu.

Ia mengulangi langkah-langkah seperti pada cangkokan kedua. Kali ini 6 cangkokan. Namun, Eddy tak habis akal. Ketika ia mulai menanam di lahan, Eddy memberikan ajir berupa bambu sebagai tempat bersandar pohon kecil itu. Dari 6 pohon yang sudah berakar, hanya 3 yang sehat dan tumbuh subur. Kali ini Eddy berhasil. Tiga pohon hasil cangkokan itu tumbuh subur dan berdaun lebat. “Saya masih menunggu kemunculan bunga dan buah,” kata Eddy. Eddy sama sekali tak memacu pohon untuk segera berbuah. “Saya khawatir pohon malah sakit dan bisa mati,” kata Eddy.

1,5 tahun

Dalam perawatannya Eddy hanya menambahkan 30—an kg pupuk kandang setiap 6 bulan dan 0,5 kg pupuk NPK 6 bulan sekali. Menurut penangkar buah di Demak, Jawa Tengah, Prakoso Heryono memperbanyak mamey sapote memang susah, baik secara sambung pucuk apalagi cangkok. Prakoso baru sukses memperbanyak mamey sapote secara sambung susu.

Namun, menurut kolektor tanaman buah di Parung, Kabupaten Bogor, Ricky Hadimulya, perbanyakan mamey sapote dengan sambung susu juga sulit. “Kita harus menemukan bahan untuk batang bawah yang tepat,” kata Ricky. Menurut Ricky, satu-satunya yang cocok sebagai batang bawah mamey sapote hasil sambung pucuk adalah mamey sapote juga. Hal senada disampaikan Prakoso. “Ada yang menggunakan batang bawah alkesah, tetapi tidak cocok. Pertumbuhan batang bawah kalah cepat dengan batang atas,” kata Prakoso.

Penantian panjang Eddy akhirnya terbayar 1,5 tahun kemudian. Pada 2012, pohon mamey sapote magana itu mulai berbunga. Namun, semua bunga rontok tak tersisa dan Eddy tak tahu penyebabnya. Baru pada pembuahan ketiga, mamey sapote itu mulai berbuah dan bisa bertahan meskipun belum sampai pada ukuran maksimal yaitu 2 kg lebih. Menurut Eddy, buah mamey sapote magana bisa dipanen ketika umur 7—8 bulan pascabunga. “Buah dipanen dengan tingkat kematangan 80%,” kata Eddy. Buah kemudian diperam 3—4 hari untuk mendapatkan rasa maksimal, yaitu manis dan lembut.  (Bondan Setyawan)

http://www.trubus.biz/?p=17741

MANGGA MANALAGI

Buah mangga telah lama menjadi komoditi unggulan pertanian Indonesia. Buah yang satu ini memang nikmat dan segar. Indonesia patut berbangga sebab kualitas mangga dalam negeri termasuk jempolan. Salah satu jenis mangga yang sedang digemari adalah mangga manalagi. Sama seperti namanya, sekali mencicipi mangga nikmat ini, Anda pasti akan minta lagi dan lagi. Pernah mencoba mangga manalagi? Konon kelezatan jenis buah mangga yang satu ini memang jawara. Daging buahnya tebal dan rasa manisnya pas.

Perpaduan Golek Dan Arumanis

Orang yang telah mencicipi buah mangga manalagi berpendapat bahwa rasa khas mangga yang satu ini seperti perpaduan rasa antara mangga arumanis dan juga mangga golek. Nikmat pokoknya! Mangga Manalagi ini banyak dibudidayakan di Indonesia khususnya di beberapa wilayah seperti Purbalingga. Pohon dari mangga nikmat ini tidak terlalu besar. Pohonnya yang telah dewasa bisa mencapai ketinggian 8 meter dengan diameter pohon maksimal mencapai ukuran 2 meter. Adapun bentuk daun buah ini cenderung lonjong dengan bagian ujung yang agak runcing. Adapun bunga pohon manalagi ini berbentuk majemuk dan seperti kerucut. Warna bunga tersebut kuning dengan bagian tangkai agak hijau kemerahan.

Buah mangga manalagi lebih kecil jika dibandingkan dengan golek. Ukurannya sedang dengan kulit buah yang masih muda hijau dan apabila matang juga masih hijau tetapi agak keabuan. Kulit mangga yang satu ini juga dipenuhi dengan bintik-bintik putih yang jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan jenis mangga lainnya. Sementara itu daging buahnya padat dan berserat. Kulit buah tebal dan berlilin. Mangga manalagi ini termasuk mangga yang tahan lama paska pemetikan dari pohon.

 

Selain dalam keadaan matang atau mengkal, buah mangga manalagi ini juga banyak dikonsumsi dalam keadaan mentah sebab rasa asamnya tidak terlalu dominan seperti jenis mangga lainnya. Ia populer dijadikan bahan rujak. NIkmat! Tak hanya itu, sama seperti mangga lainnya, si manalagi ini juga mengandung beragam senyawa penting yang memiliki khasiat naik bagi tubuh. Senyawa tersebut antara lain vitamin A, B kompleks, C, D dan juga E. Ada pula sejumlah mineral seperti kalsium, fosfor, kalium, selenium, serat atau fiber, beta karoten, zat besi dan masih banyak lagi lainnya. Dengan mengkonsumsi mangga manalagi secara teratur, kita bisa menanggulangi beberapa penyakit seperti jantung, tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan dan masih banyak lagi lainnya.

Selain buah mangga manalagi, bagian seperti kayu, biji mangga dan juga daun bisa juga dimanfaatkan. Kayu mangga manalagi cukup kuat dan populer dijadikan bahan untuk membuat kerajinan tangan. Sementara itu, biji mangga juga bukan sekedar limbah. Ia biasa dijadikan pakan ternak. Di Negara seperti India, biji mangga bahkan dijadikan bahan pangan terutama saat musim paceklik. Sementara itu, dedaunan mangga juga kabarnya bisa dijadikan obat dan di beberapa daerah tertentu populer dijadikan pelengkap ritual budaya atau keagamaan.

BLUEBERRY

Siapa yang gak kenal buah blueberry? buah mungil dari kelompok buah sejenis dengan strawberry ini ternyata memiliki manfaat yang besar. Rasanya gak salah kalau buah blueberry ini disebut dengan “kecil-kecil cabe rawit”. manfaat buah blueberry diantaranya dapat mencegah kanker juga penyakit jantung. Bagaimana bisa buah semak yang berasal dari amerika utara ini memiliki begitu banyak khasiat? Yuk kita cari tahu.

Temuan mengenai manfaat blueberry ini dipersembahkan oleh James Joseph dari Tufts University dan Dorothea J Klimis, Maine University. Keduanya ilmuwan nutrisi. mereka menemukan berbagai manfaat yang terkandung dalam blueberry ini. warna gelap yang dimiliki buah yang satu ini bukan hanya pajangan saja ‘coz kandungan senyawa anthocyanin yang terkandung dalam phytonutrient, zat yang memberi warna gelap pada blueberry ini berperan sebagai anti-oksidan. Proses penuaan, polusi dan kegiatan kita sehari-hari menyebabkan terjadinya penumpukan oksidan dalam tubuh. Oksidan adalah radikal bebas yang menempel dengan sel yang merusak membran serta materi genetis sel. Proses inilah yang memicu timbulnya kanker atau penyakit lain yang berhubungan dengan penuaan.

Phytonutrient mencegah hal ini dengan cara ‘mengorbankan diri’ sehingga oksidan, yang juga dapat menyerang sel syaraf , tidak menempel pada sel, tapi pada dirinya sendiri yang kemudian ikut terbuang bersama kotoran tubuh sehingga penyakit dapat dicegah.

Manfaat lain Blueberry adalah meningkatkan kapasitas ingatan jangka pendek (short term memory) yang kita perlukan untuk memastikan hafalan tetap ada di otak sembari menunggu disimpan di gudang ingatan yang lebih permanen;kemampuan mempelajari ruang (spatial learning) yang anda butuhkan saat menghafal jalan, serta meningkatkan kemampuan motorik.

Tidak hanya itu, Blueberry juga mengandung unsur kimia merupakan zat anti peradangan. bebas radang juga menyebabkan lancarnya aliran darah, yang akan menjaga asupan energi untuk fungsi mental (mengingat , memecahkan masalah, dll) menjaga mood tetap senang serta mencegah pengerasan dinding arteri (sehingga mencegah penyakit jantung). berkaitan dengan penyakit jantung , blueberry juga menjaga zat nitri oksida yang membuat dinding arteri arteri tetap fleksibel yang  merupakan kondisi yang dapat mencegah terjadinya penyakit.

Baobab adalah pohon yang dapat berumur panjang sering disebut Tree of Life karena pohon ini bisa berumur sampai 800 tahun, konon pohon di foto ini sudah berumur 1500 tahun memang masih kalah dengan perkiraan pohon Red Sherman atau General Sherman tree di California yang mencapai 2200 tahun.

Baobab adalah nama umum dari sebuah genus (Adansonia) yang terdiri dari delapan spesies pohon asli Madagaskar, Afrika daratan dan Australia. Spesies Afrika daratan juga ada di Madagaskar, tetapi tidak asli negara itu.

Baobab dapat menyimpan 300 liter air sekaligus dalam musim hujan, pohon ini dikeramatkan di daerah asalnya karena mengingatkan penduduk tentang nenek moyangnya.

Pohon ini juga terkenal karena salah satu Formasi Baobab di Madagaskar yang paling terkenal terpublikasi secara massal setelah menjadi kandidat The new 7 Wonder Nature Baobab Avenue,  dimana formasi pohon Baobab menjulang tinggi dengan sangat indahnya.

Tanaman Nagasari di beberapa daerah di Indonesia disebut dengan beberapa nama yang berbeda seperti Balam Bakulo (Palembang), Balam Pucung (Kubu), Nyatoh Darat (Bangka), Nyatoh Pisang (Bangka Belitung), Balam Pucung, Nyatoh Terung, Pulai Pipit (Minangkabau), Nyatoh Terung (Lampung), Nagasari (Jawa).

Ciri-ciri dan Habitat Pohon Nagasari. Tumbuhan Nagasari (Palaquium rostratum) mempunyai pohon yang besar dengan ketinggian hingga 30 m, dan diameter mencapai 120 cm. Batangnya lurus, bulat torak dengan banir tipis, lebar. Kayunya coklat kemerahan, mengkilat, berurat indah dan ringan. Buahnya hijau memanjang dan berisi biji yang memanjang pula.

Pohon Nagasari (Palaquium rostratum) tumbuh di Indonesia tumbuh di Pulau Sumatra, kalimantan, Jawa, Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi dan Maluku. Selain itu juga terdapat di Thailand selatan dan Malaysia.

Pohon Nagasari banyak tumbuh di hutan tropika di dataran rendah sampai ketinggian 1500 m dpl. Seringkali tumbuhan ini didapati tumbuh di hutan-hutan yang berawa. Perkembangbiakan pohon ini dengan menggunakan biji, namun dapat juga diperbanyak dengan menggunakan stek.

Manfaat Pohon Nagasari. Pemanfaatan Pohon Nagasari antara lain Kayunya yang banyak digunakan untuk perabot di dalam rumah, lantai, dan mebel. Kayunya kadang-kadang dipakai juga untuk membuat perahu. Sedangkan buah Nagasari (Palaquium rostratum) dapat dimakan dan bijinya mengandung lemak yang banyak untuk memasak.

Selain itu bunga Nagasari dapat dimanfaatkan sebagai obat anti diare, aromatik, ekspektoran, gangguan jiwa. Minyak biji untuk lampu, obat koreng, encok, kulit menggerisil, biji untuk eksim, urat darah membesar, benangsasi untuk sakit panas.

Oleh masyarakat jawa, kayu Nagasari diyakini sebagai salah satu kayu yang bertuah yang bermanfaat untuk keselamatan, kewibawaan, pengobatan, perlindungan terhadap orang jahat/jin jahat, binatang berbisa, anti tenung. Karena itu tidak jarang pohon ini ditemui tumbuh di area pemakaman kuno atau tokoh-tokoh sejarah.

Klasifikasi Ilmiah: Kerajaan: Plantae; Filum: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Ebenales; Famili: Sapotaceae; Genus: Palaquium; Spesies: Palaquium rostratum (Miq. Burck). Sinonim Palaquium bancanum (Burck); Croixia rostrata (Baehni).

Referensi: http://www.plantamor.com; Gambar: en.academic.ru

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.