Latest Entries »

Stek Zaitun

 

Perbanyakan zaitun dengan setek lebih cepat, 21 hari siap tanam. Tingkat keberhasilan 80%.

Demam menanam zaitun di tanahair membuat penangkar bibit getol memperbanyak Olea eoropaea itu. Mereka memperbanyak tanaman lambang perdamaian itu dengan setek dan cangkok. Sayang, hampir semua penangkar mengeluh sulit memperbanyak zaitun. Tengoklah pengalaman Fendi Salim di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang memperbanyak zaitun dengan cangkok. Ia menggunakan batang berdiameter 0,5 cm dengan media tanam sekam bakar dan sedikit tanah merah.

 

Fendi Salim mempertahankan kelembapan media 60%. Saat mencangkok ia menutup rapat media dengan plastik untuk mencegah penguapan. Akar tumbuh dan cangkokan siap dipindahkan ke lahan pada bulan ke-2. Fendi tiga kali mencangkok zaitun dari satu induk. Diameter batang terlampau kecil menjadi kendala sehingga tingkat keberhasilannya hanya 40%.

Proses Bertahap

Penangkar bibit di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Romia Satria Agung, berhasil menyetek zaitun. Dalam 21 hari setek pohon perdamaian itu siap tanam. Tingkat keberhasilan perbanyakan dengan setek mencapai 80%. Ia memanfaatkan gelas kemasan air minum, jaring, dan sungkup plastik ultraviolet berukuran 3 m x 4 m.  Namun, jalan sukses itu tidak diraih dalam sekejap. Romia 10 kali menguji coba hingga akhirnya berhasil.

Ia menggunakan plastik ultraviolet dan dua lapis jaring untuk menutupi ruang pengabutan berukuran 3 m x 4 m berkerangka besi. Tujuannya untuk mengurangi intensitas sinar matahari. Ruang itu untuk merawat setek sampai keluar akar pada percobaan pertama ia mengambil 500 setek dari 20 induk. Tinggi setek 10 cm.  Media  menggunakan busa basah berukuran 10 cm x 10 cm x 10 cm. Percobaan pertama gagal, tak satu pun setek berakar.

Romia masih penasaran sehingga ia melakukan percobaan kedua. Metode sama dan 10% berhasil tumbuh. Pada eksperimen ketiga, pria yang tinggal di Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, itu sukses menumbuhkan setek. Tingkat keberhasilan 40%. Bahkan, sejak percobaan ke-4 hingga ke-10 tingkat keberhasilan hingga 80%. “Kuncinya, menggunakan batang berukuran 15—20 cm dari bagian ujung pasti berhasil. Bagian pucuk dipotong sepanjang 2 cm. Semakin ke bawah, tingkat keberhasilannya rendah,” ujarnya.

Selain itu, pemotongan batang harus menggunakan silet tajam. Penggunaan gunting merusak ujung batang tempat munculnya akar. Setelah memotong batang, ia merendam pangkal batang dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh (ZPT) selama 10 menit. Romia kemudian meniriskan calon setek itu dan menancapkannya di media tanam busa di dalam gelas air kemasan. Pada 21—30 hari berselang, setek pun berakar.

Di ruang pengabutan penyiraman diatur setiap 15 menit selama 25—30 detik untuk menjaga kelembapan tanah. Romia lantas memindahkan tanaman berakar ke pot berdiameter 10 cm. Media tanam dalam pot itu berupa campuran sekam bakar dan tanah merah dengan perbandingan 3 : 2. Selama 3—4  pekan, ia meletakkan pot-pot itu di tempat teduh. Ketika itulah ia memberi pupuk NPK mutiara berkonsentrasi dua sendok per liter air.

Pada bulan ketiga ia meletakkan hasil setek di bawah sinar matahari sepanjang pagi. Ia mempertahankan perlakuan itu selama 1,5 bulan. Menurut Romia, selama proses aklimatisasi populasi setek turun hingga 10%. Ia juga memberikan pupuk daun dan kotoran kambing. Perbanyakan zaitun dengan setek juga dipakai Benara Nurseries di Karawang, Jawa Barat. “Tiga tahun terakhir kami mengembangkan zaitun jenis correggiolo,  frantoio,  mannzaillo, nevadilo, dan blanco,” kata Manager Produksi Benara, Ir Muhammad Yusuf Siregar.

Umur sedang

Untuk memperbanyak zaitun, Yusuf menggunakan batang hijau sepanjang 10 cm, tidak terlalu tua, dan tidak terlalu muda. Batang kaku menandakan tua sedangkan bagian pucuk—kira-kira 2 cm—dipotong.  Ia mengolesi setiap pangkal setek dengan ZPT dan diletakkan dalam ruang pengabutan. Selain itu ia mengurangi daun untuk memperkecil penguapan. Yusuf memanfaatkan sekam, pasir, serbuk sabut kelapa dengan perbandingan 3 : 1 : 2 sebagai media.

Tiga sampai lima pekan kemudian akar muncul dan tanaman siap dipindahkan ke pot majemuk dengan intensitas sinar matahari 50%. Keberhasilan teknik setek di Benara mencapai 80%. “Apabila keberhasilan setek kurang dari 70% berturut-turut dan semakin menurun artinya perlu regenerasi induk baru,” kata Yusuf. Ia memberikan pupuk NPK setiap dua pekan dengan dosis sesuai merek. Apabila terserang hama, ia menyemprotkan pestisida dua kali dalam sepekan.

Menurut dosen Jurusan Biologi, Universitas Brawijaya, Malang, Ir Retno Mastuti, MAg Sc DAg Sc, menyetek  dilakukan dengan menggunakan bagian ranting dekat pucuk. Lalu saat menanam ke media potong pucuk sepanjang 2 cm. Tujuannya supaya tidak terjadi penguapan berlebih. Secara alami bagian pucuk memproduksi hormon auksin untuk membentuk akar.  Karena pucuk dihilangkan maka untuk menggantikan kebutuhan hormon yang menginduksi akar perlu mengoleskan atau merendam bagian bawah potongan dengan ZPT.

Doktor Biologi alumnus Universitas Nagoya, Jepang, itu menuturkan penggunaan bagian dekat dengan pucuk sebagai bahan setek sudah tepat sebab sesuai arah transport auksin dari tunas ke arah pangkal akar “Jarak itu lebih dekat dengan sumber sintesis auksin,” kata Retno. Penggunaan batang jauh dari pucuk masih dapat dilakukan. Namun, tingkat keberhasilannya lebih rendah dibandingkan setek pucuk. (Lutfi Kurniawan)

 

Gati Kecil Gati Manis

Luas areal tanam nanas gati di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, mencapai 80 hektar

Luas areal tanam nanas gati di Kecamatan
Cijeruk, Kabupaten Bogor, mencapai 80 hektar

Sosok buah nanas Ananas comosus itu hanya seukuran kepalan tangan orang dewasa. Setiap buah berbobot rata-rata hanya 500 g.  Begitu buah dibelah, tampak daging buah berwarna kuning cerah. Daging buah itu manis dan “juicy” sehingga menyegarkan. Pengukuran menggunakan refraktometer, tingkat kemanisan buah tanaman anggota famili Bromeliaceae itu mencapai 150 briks. Selain manis, buah itu tak meninggalkan rasa gatal sedikit pun di mulut. Padahal, konsumsi buah itu tanpa pencucian dalam air garam terlebih dahulu.

Menurut kepala Pusat Kajian Tanaman Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor (PKHT-IPB), Sobir PhD, nanas dengan tingkat kemanisan 150 briks tergolong baik. “Biasanya kadar kemanisan nanas yang dirawat alakadarnya hanya 8—110 briks,” ujar Sobir. Ia menuturkan nanas gati tergolong nanas jenis queen yang memang berukuran mungil, tapi memiliki keunggulan berasa manis. Dosen di Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor itu mengatakan kemanisan gati meningkat jika ditanam di area panas seperti Blitar, Jawa Timur.

Nanas gati, tingkat kemanisan mencapai 15o briks

Nanas gati, tingkat kemanisan mencapai 15o briks

Berbukit

Penangkar buah di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Mim Muhammad, nanas mungil dan manis itu berasal dari sentra nanas di Desa Tajurhalang, Kecamatan Cijeruk. Bersama Mim Muhammad, Trubus menuju desa yang berjarak 15 km dari Kota Bogor itu. Jalan ke sentra nanas mini itu terus menanjak. Begitu memasuki area kebun jalan hanya berupa tanah. “Jika musim hujan sulit naik hingga ke atas bukit,” ujar Mim.

Setelah menempuh perjalanan hingga ketinggian 800 m di atas permukaan laut, tampak hamparan kebun nanas di punggung bukit. Para pekebun di Desa Tajurhalang menyebutnya nanas gati.  Menurut petugas lapang Unit Pelayanan Teknis (UPT) Caringin Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Ade Abdullah, SSos, pemberian nama gati berasal dari nama kampung tempat asal-muasal nanas itu yakni Kampung Gati, Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

 Ade Abdullah mengatakan bahwa total luas areal tanam nanas gati di Kecamatan Cijeruk mencapai 80 ha yang menghampar di 3 desa, yaitu Desa Sukaharja, Cipelang, dan Tajurhalang. Ketiga desa itu lokasinya berdekatan. Sebanyak 90% kepemilikan lahan merupakan tanah garapan. Masyarakat setempat memanfaatkan tanah milik negara untuk membudiyakan  nanas, sisanya milik pribadi. Belum diketahui pasti waktu pertama kali penanaman nanas gati di ketiga desa itu. “Budidaya nanas gati sudah berlangsung turun-temurun sejak 1970-an,” ujarnya. Para pekebun nanas tergabung dalam 7 kelompok tani yang masing-masing beranggotakan 20 pekebun.

Di kebun seluas 1.000 m2 milik Mida,  beberapa tanaman tengah berbuah dan siap panen. Ukuran buah memang hanya sekepalan tangan.  Menurut Ade bobot buah nanas gati sebetulnya bisa mencapai 1,3 kg per buah. “Buah seukuran itu biasanya muncul pada buah perdana,” ujar Ade. Pada buah berikutnya ukuran nanas mengecil karena pekebun membiarkan anakan nanas tumbuh banyak, sementara pasokan nutrisi terbatas hanya dari serasah.

Menurut pekebun nanas gati di Desa Tajurhalang, Kanta, para pekebun enggan memupuk tambahan seperti NPK dan Urea karena menambah pengeluaran. Mereka juga tidak menambahkan pupuk kandang karena sulit mengangkutnya ke kebun yang berada di atas bukit. “Jalannya masih jelek dan menanjak,” katanya. Sebagai sumber nutrisi, ia hanya mengandalkan daun nanas yang dicacah ketika sehabis panen dan hasil siangan rumput. Daun nanas dan rumput itu nantinya membusuk dan terurai menjadi sumber nutrisi organik.

Budidaya organik

Dengan pola budidaya tanpa pupuk dan pestisida, nanas gati itu termasuk buah organik. “Jadi nanas dari sini boleh dikatakan murni organik,” ujar Mim Muhammad. Di kebun Mida nanas tumbuh berderet rapi dalam beberapa lajur bedengan. Jarak antarlajur sekitar 1 m. Sementara jarak tanam antartanaman pada satu lajur lebih rapat, yakni hanya 50 cm. Pada masing-masing lajur tanaman tampak rapat karena Mida membiarkan tumbuh setiap anakan yang muncul.

“Dalam satu rumpun bisa muncul 7—13 anakan,” ujar pria yang juga ketua rukun warga (RW) itu. Itulah sebabnya dari populasi saat awal penanaman untuk lahan 1.000 m2 sebanyak 1.000 tanaman, maka pada musim berbuah berikutnya jumlah produksi bisa berlipat karena tanaman beranak-pinak. Sejak muncul anakan hingga panen buah nanas berwarna kekuningan itu perlu waktu 1 tahun. Ciri buah matang jika kulit buah berwarna kuning cerah.

“Buah sebetulnya bisa dipanen saat warna kulit mulai bersemburat kuning. Tapi lebih manis lagi kalau seluruhnya berwarna kuning,” ujar Mida. Saat itu pada akhir November 2013 memang tengah musim panen raya.  “Di sini panen nanas dua kali setahun, yakni pada November dan Juli, paling banyak pada November,” ujar Mida. Dari kebun Mida yang tanamannya sebagian besar berumur 7 tahun, pria paruh baya itu memanen rata-rata 5.000 buah nanas.

Ia menjual hasil panen ke para pengepul buah. “Harga jual saat panen raya hanya Rp1.000 per buah,” ujarnya. Bagi Mida harga jual itu masih menguntungkan. Itu karena ia tak pernah memberikan pupuk tambahan. Bagi warga Desa Tajurhalang, budidaya nanas gati memang bukan penghasilan utama. “Sebagian besar warga Desa Tajurhalang berdagang atau wirausaha lain. Sebagai sampingan kami memelihara sapi perah dan berkebun nanas gati,” ujar Etong, pekebun yang mengelola kebun nanas gati di lahan 2.000 m2.

Mereka mengebunkan nanas untuk memanfaatkan lahan bekas perkebunan teh milik negara. “Perawatan nanas mudah, tidak disiram dan dipupuk pun masih bisa bertahan hidup dan berbuah. Yang penting rumput harus sering disiangi,” ujar Etong. Sayangnya pasar nanas gati sebagian besar masih mengandalkan pasar tradisional di Kota Bogor. Menurut pengepul nanas gati di Desa Tajurhalang, Aan, hasil panen nanas biasanya dijual di lapak-lapak buah dan industri asinan. “Beberapa konsumen perorangan ada yang memesan langsung, tapi jumlahnya hanya sedikit,” ujarnya. Pada saat panen raya, dalam sehari Aan bisa menjual 600 buah nanas gati.

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor terus berupaya mengembangkan nanas gati agar lebih populer di tanahair. Salah satunya dengan melepasnya menjadi varietas unggul dengan nama nanas mahkota. “Kami juga berupaya mempertemukan petani dengan pengusaha buah seperti pemasok pasar swalayan dan memberikan bantuan bibit dan pupuk. Pada 2010 luas tanam bertambah 25% dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” ujar Ade. (Imam Wiguna/Peliput: Pressi Hapsari Fadlillah)

Kebun melon intensif terhindar dari serangan hama dan penyakit

Kebun melon intensif terhindar dari serangan hama dan penyakit

Penyakit melon itu membusukkan daging buah, sementara kulit buah mulus.

Pekebun melon di Muarakarang, Jakarta Utara, Tatang Halim, terkejut ketika membelah sebuah melon golden hasil panen kebunnya. “Daging buahnya busuk di dalam,” katanya. Padahal, kulit luar buah tampak mulus. “Tidak terlihat tanda-tanda buahnya rusak atau busuk, baik di buah, batang, akar, maupun daun,” kata Tatang. Ia semakin kecewa ketika mendapati penyakit itu bukan hanya menyerang 1 atau 2 buah, tapi 100 melon lain. “Ada yang di dalamnya masih keras, tapi banyak air dan bau,” kata Tatang.

Penyakit juga menyerang buah melon berdaging jingga berkulit buah hijau berjaring. Namun, gejalanya berbeda dengan yang dialami melon golden. “Ketika buah dibelah tampak daging buah seperti terdapat miselium cendawan berwarna abu-abu. Sementara buah dari luar terlihat mulus,” kata Tatang. Menurut ketua Ikatan Petani Melon Cilegon (IPMC), Ade Dwi Adedi, serangan kedua penyakit itu membusukkan buah biasanya 3—4 hari pascapanen. “Biasanya saat awal panen mulus, tapi setelah 3—4 hari kulit luar tampak kecokelatan,” ujarnya.

Tatang Halim mengebunkan melon di Desa Korelet, Kecamatan Curug, Kota Tangerang Selatan

Tatang Halim mengebunkan melon di Desa Korelet, Kecamatan Curug, Kota Tangerang Selatan

Bakteri dan cendawan

Akibat serangan kedua penyakit itu, Tatang kehilangan pendapatan hingga jutaan rupiah.  Harga jual melon yang ia tanam rata-rata mencapai Rp30.000 per buah atau sekitar Rp15.000 per kg.  “Ini pertama kalinya melon saya terserang penyakit seperti itu,” ujar pria yang mengebunkan melon sejak 2011.

Peneliti di Pusat Kajian Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor (PKHT-IPB), Jawa Barat, Kusuma Darma SP MSi, menduga penyakit pada melon golden akibat serangan bakteri Erwinia sp. “Itu terlihat dari gejala daging buah busuk, berlendir, dan kadang-kadang berbau,” ujarnya. Menurut Kusuma jika serangan itu dibiarkan dapat merugikan pekebun hingga 100% alias gagal panen.

Kusuma menduga penyakit yang menyerang melon berjaring dan berdaging buah jingga akibat serangan cendawan Fusarium sp. “Ciri-cirinya muncul miselium yang berwarna abu-abu kehijauan di dalam buah,” tutur alumnus Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor itu. Kusuma menuturkan cendawan dan bakteri lebih gencar menyerang pada musim  hujan. Kedua patogen itu menyukai kondisi lembap. “Pekebun perlu melakukan upaya pencegahan untuk menekan serangan penyakit,” kata Kusuma.

Serangan Erwinia

Serangan Erwinia

Intensif

Tatang sejatinya sudah mencegah dan mengendalikan kedua penyakit itu. Untuk mencegah serangan cendawan, misalnya, ia rutin menyemprotkan fungisida berbahan aktif mankozeb, propineb, azoksistrobin, dan difenokonazol sekali sepekan secara bergantian dengan dosis sesuai petunjuk di kemasan. Namun, jika sudah terserang penyakit, frekuensi penyemprotan fungisida menjadi dua kali seminggu setengah dosis anjuran. Ketika muncul gejala serangan bakteri, Tatang juga mengocorkan bakterisida berbahan aktif oksitetrasiklin dengan dosis yang tertera di kemasan.

Tatang memanen melon saat umur tanaman sekitar 60 hari setelah tanam (HST) dengan kondisi matang sempurna. Cirinya daun di dekat buah mengering. Pada melon golden buah siap panen jika kulit melon berwarna kuning pekat. Sementara melon berjaring berwarna hijau muda berdaging jingga siap panen bila jaring terlihat melebar.

Serangan Fusarium

Serangan Fusarium

Untuk mencegah penyakit akibat cendawan, Ade menggunakan fungisida yang mengandung unsur tembaga (Cu). Ade mengocorkan fungisida itu dua kali dalam satu periode tanam yaitu pada umur 35 hari setelah tanam (HST) dan 45 HST. Hasilnya, kondisi tanaman bisa terhindar dari penyakit itu.

Melihat upaya budidaya intensif yang Tatang lakukan, Kusuma menduga penyakit itu ditularkan melalui benih.  Oleh karena itu Kusuma menyarankan agar benih direndam dahulu dengan fungisida maupun bakterisida. “Perendaman itu untuk mematikan dan mencegah cendawan maupun bakteri yang menempel pada benih,” tuturnya. Selain itu pemilihan benih juga penting. “Jika kedua penyakit itu ditularkan melalui benih, maka pencegahan paling efektif adalah memastikan benih yang kita beli terbebas dari penyakit,” kata master bidang Mikrobiologi alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Mengapa serangan penyakit kedua jenis melon itu berbeda meski ditanam di lahan sama dan waktu bersamaan? Menurut Kusuma, penyebab serangan berbeda kemungkinan karena ketahanan kedua varietas melon terhadap sebuah penyakit berbeda pula. “Melon berkulit kuning mungkin lebih tahan terhadap cendawan, tetapi rentan terhadap bakteri.  Sebaliknya, melon berjaring lebih tahan terhadap bakteri tetapi rentan terhadap cendawan,” kata Kusuma. (Bondan Setyawan)

 

Kebun melon intensif terhindar dari serangan hama dan penyakit

Tatang Halim mengebunkan melon di Desa Korelet, Kecamatan Curug, Kota Tangerang Selatan

Mamey sapote magana bisa berbobot 2 kg lebih

Mamey sapote magana bisa berbobot 2 kg
lebih

Mamey sapote berhasil dicangkok, sehat, dan berbuah.

Eddy Soesanto jatuh cinta pada pandangan pertama. Kolektor buah di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat itu benar-benar kepincut ketika melihat foto mamey sapote jenis magana pada 2010. “Ukurannya bisa 2 kg lebih, lebih besar daripada jeni keywest yang hanya sekitar 1,3 kg,” kata Eddy.

Setelah melihat foto magana, ia mencari ke para kolektor buah. Pencarian selama kurang lebih 6 bulan itu membuahkan hasil. Eddy menemukan magana di halaman rumah seorang kolektor buah di Jawa Barat. Sayang pemilik magana tak menjual pohon itu. Namun, Eddy tak putus asa, ia berusaha untuk mendapatkan bibitnya. Penangkar bibit buah itu bernegosiasi sehingga sang empunya akhirnya membolehkan Eddy mencangkok pohon induk.  Syaratnya, Eddy mesti menyerahkan beberapa hasil cangkokan yang sehat. Namun, seperti dugaan Eddy, “Mencangkok mamey sapote tak semudah mencangkok tanaman buah lain seperti jambu, lengkeng, atau sawo biasa,”

Eddy Soesanto dengan pohon indukan mamey sapote magana

Eddy Soesanto dengan pohon indukan
mamey sapote magana

Cangkokan ke-3

Eddy mencangkok mamey itu di cabang horizontal berdiameter 2—5 cm. Ia mencangkok 10 batang. “Saya menggunakan media tanah saja tanpa pupuk. Karena saya khawatir pupuk itu malah membuat cangkokan berjamur,” ujarnya.

Setelah 3 bulan, cangkokan berakar. Namun, Eddy bersabar menunggu hingga akar cangkokan lebih banyak.  Dua bulan berselang akar maksimal dan Eddy memotong cabang dari pohon induk. Ia merobek sedikit bungkus cangkokan, mencelupkan akar cangkok mamey itu ke dalam hormon perangsang tumbuh dengan konsentrasi 5 ml per liter. “Dirobek sedikit biar hormon bisa terserap,” kata Eddy.

Setelah ditiriskan, Eddy lalu menanamnya di polibag dengan media sekam, tanah dan pupuk kandang perbandingan 1 : 1 : 1.

Ia menyiram dua hari sekali. Pohon itu diletakkan di tempat teduh hingga muncul tunas atau sekitar 1,5 bulan. Kemudian setelah bertunas, Eddy pun memindahkannya ke tempat panas atau tanpa naungan. “Sekitar 3—4 bulan, semua cangkokan mati,” kata Eddy. Ia menduga pohon masih belum sehat.

Angin kencang

Eddy tak patah arang. Ia kembali mencangkok pohon induk berumur sekitar 20-an tahun itu sebanyak 3 cangkok. Proses pada cangkokan pertama Eddy ulangi. Namun, ia tak terburu-buru memindahkan cangkokan di lahan langsung, Eddy menunggu sekitar 3 bulan hingga daun kecil menjadi remaja dengan panjang daun sekitar 15 cm.

Eddy lalu memindahkan ke tempat yang lebih netral antara teduh dan panas seperti di bawah pepohonan. Setelah 2 bulan, panjang daun menjadi sekitar 20-an cm. Eddy lalu memindahkan ke lahan langsung dengan lubang tanam 1 m x 1 m x 1 m. Ia juga menambahkan 30—an kg pupuk kandang dan 0,5 kg pupuk NPK per pohon.

Berhasil? Lagi-lagi Eddy gagal. Pohon itu terkena angin besar dan hujan deras. “Pohonnya mati karena banyak akar yang putus ketika pohon tertiup angin kencang,” katanya. Untuk ketiga kalinya, Eddy mencoba lagi. Kali ini ia benar-benar memperhatikan setiap langkah untuk memperbanyak mamey sapote magana itu.

Ia mengulangi langkah-langkah seperti pada cangkokan kedua. Kali ini 6 cangkokan. Namun, Eddy tak habis akal. Ketika ia mulai menanam di lahan, Eddy memberikan ajir berupa bambu sebagai tempat bersandar pohon kecil itu. Dari 6 pohon yang sudah berakar, hanya 3 yang sehat dan tumbuh subur. Kali ini Eddy berhasil. Tiga pohon hasil cangkokan itu tumbuh subur dan berdaun lebat. “Saya masih menunggu kemunculan bunga dan buah,” kata Eddy. Eddy sama sekali tak memacu pohon untuk segera berbuah. “Saya khawatir pohon malah sakit dan bisa mati,” kata Eddy.

1,5 tahun

Dalam perawatannya Eddy hanya menambahkan 30—an kg pupuk kandang setiap 6 bulan dan 0,5 kg pupuk NPK 6 bulan sekali. Menurut penangkar buah di Demak, Jawa Tengah, Prakoso Heryono memperbanyak mamey sapote memang susah, baik secara sambung pucuk apalagi cangkok. Prakoso baru sukses memperbanyak mamey sapote secara sambung susu.

Namun, menurut kolektor tanaman buah di Parung, Kabupaten Bogor, Ricky Hadimulya, perbanyakan mamey sapote dengan sambung susu juga sulit. “Kita harus menemukan bahan untuk batang bawah yang tepat,” kata Ricky. Menurut Ricky, satu-satunya yang cocok sebagai batang bawah mamey sapote hasil sambung pucuk adalah mamey sapote juga. Hal senada disampaikan Prakoso. “Ada yang menggunakan batang bawah alkesah, tetapi tidak cocok. Pertumbuhan batang bawah kalah cepat dengan batang atas,” kata Prakoso.

Penantian panjang Eddy akhirnya terbayar 1,5 tahun kemudian. Pada 2012, pohon mamey sapote magana itu mulai berbunga. Namun, semua bunga rontok tak tersisa dan Eddy tak tahu penyebabnya. Baru pada pembuahan ketiga, mamey sapote itu mulai berbuah dan bisa bertahan meskipun belum sampai pada ukuran maksimal yaitu 2 kg lebih. Menurut Eddy, buah mamey sapote magana bisa dipanen ketika umur 7—8 bulan pascabunga. “Buah dipanen dengan tingkat kematangan 80%,” kata Eddy. Buah kemudian diperam 3—4 hari untuk mendapatkan rasa maksimal, yaitu manis dan lembut.  (Bondan Setyawan)

http://www.trubus.biz/?p=17741

MANGGA MANALAGI

Buah mangga telah lama menjadi komoditi unggulan pertanian Indonesia. Buah yang satu ini memang nikmat dan segar. Indonesia patut berbangga sebab kualitas mangga dalam negeri termasuk jempolan. Salah satu jenis mangga yang sedang digemari adalah mangga manalagi. Sama seperti namanya, sekali mencicipi mangga nikmat ini, Anda pasti akan minta lagi dan lagi. Pernah mencoba mangga manalagi? Konon kelezatan jenis buah mangga yang satu ini memang jawara. Daging buahnya tebal dan rasa manisnya pas.

Perpaduan Golek Dan Arumanis

Orang yang telah mencicipi buah mangga manalagi berpendapat bahwa rasa khas mangga yang satu ini seperti perpaduan rasa antara mangga arumanis dan juga mangga golek. Nikmat pokoknya! Mangga Manalagi ini banyak dibudidayakan di Indonesia khususnya di beberapa wilayah seperti Purbalingga. Pohon dari mangga nikmat ini tidak terlalu besar. Pohonnya yang telah dewasa bisa mencapai ketinggian 8 meter dengan diameter pohon maksimal mencapai ukuran 2 meter. Adapun bentuk daun buah ini cenderung lonjong dengan bagian ujung yang agak runcing. Adapun bunga pohon manalagi ini berbentuk majemuk dan seperti kerucut. Warna bunga tersebut kuning dengan bagian tangkai agak hijau kemerahan.

Buah mangga manalagi lebih kecil jika dibandingkan dengan golek. Ukurannya sedang dengan kulit buah yang masih muda hijau dan apabila matang juga masih hijau tetapi agak keabuan. Kulit mangga yang satu ini juga dipenuhi dengan bintik-bintik putih yang jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan jenis mangga lainnya. Sementara itu daging buahnya padat dan berserat. Kulit buah tebal dan berlilin. Mangga manalagi ini termasuk mangga yang tahan lama paska pemetikan dari pohon.

 

Selain dalam keadaan matang atau mengkal, buah mangga manalagi ini juga banyak dikonsumsi dalam keadaan mentah sebab rasa asamnya tidak terlalu dominan seperti jenis mangga lainnya. Ia populer dijadikan bahan rujak. NIkmat! Tak hanya itu, sama seperti mangga lainnya, si manalagi ini juga mengandung beragam senyawa penting yang memiliki khasiat naik bagi tubuh. Senyawa tersebut antara lain vitamin A, B kompleks, C, D dan juga E. Ada pula sejumlah mineral seperti kalsium, fosfor, kalium, selenium, serat atau fiber, beta karoten, zat besi dan masih banyak lagi lainnya. Dengan mengkonsumsi mangga manalagi secara teratur, kita bisa menanggulangi beberapa penyakit seperti jantung, tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan dan masih banyak lagi lainnya.

Selain buah mangga manalagi, bagian seperti kayu, biji mangga dan juga daun bisa juga dimanfaatkan. Kayu mangga manalagi cukup kuat dan populer dijadikan bahan untuk membuat kerajinan tangan. Sementara itu, biji mangga juga bukan sekedar limbah. Ia biasa dijadikan pakan ternak. Di Negara seperti India, biji mangga bahkan dijadikan bahan pangan terutama saat musim paceklik. Sementara itu, dedaunan mangga juga kabarnya bisa dijadikan obat dan di beberapa daerah tertentu populer dijadikan pelengkap ritual budaya atau keagamaan.

BLUEBERRY

Siapa yang gak kenal buah blueberry? buah mungil dari kelompok buah sejenis dengan strawberry ini ternyata memiliki manfaat yang besar. Rasanya gak salah kalau buah blueberry ini disebut dengan “kecil-kecil cabe rawit”. manfaat buah blueberry diantaranya dapat mencegah kanker juga penyakit jantung. Bagaimana bisa buah semak yang berasal dari amerika utara ini memiliki begitu banyak khasiat? Yuk kita cari tahu.

Temuan mengenai manfaat blueberry ini dipersembahkan oleh James Joseph dari Tufts University dan Dorothea J Klimis, Maine University. Keduanya ilmuwan nutrisi. mereka menemukan berbagai manfaat yang terkandung dalam blueberry ini. warna gelap yang dimiliki buah yang satu ini bukan hanya pajangan saja ‘coz kandungan senyawa anthocyanin yang terkandung dalam phytonutrient, zat yang memberi warna gelap pada blueberry ini berperan sebagai anti-oksidan. Proses penuaan, polusi dan kegiatan kita sehari-hari menyebabkan terjadinya penumpukan oksidan dalam tubuh. Oksidan adalah radikal bebas yang menempel dengan sel yang merusak membran serta materi genetis sel. Proses inilah yang memicu timbulnya kanker atau penyakit lain yang berhubungan dengan penuaan.

Phytonutrient mencegah hal ini dengan cara ‘mengorbankan diri’ sehingga oksidan, yang juga dapat menyerang sel syaraf , tidak menempel pada sel, tapi pada dirinya sendiri yang kemudian ikut terbuang bersama kotoran tubuh sehingga penyakit dapat dicegah.

Manfaat lain Blueberry adalah meningkatkan kapasitas ingatan jangka pendek (short term memory) yang kita perlukan untuk memastikan hafalan tetap ada di otak sembari menunggu disimpan di gudang ingatan yang lebih permanen;kemampuan mempelajari ruang (spatial learning) yang anda butuhkan saat menghafal jalan, serta meningkatkan kemampuan motorik.

Tidak hanya itu, Blueberry juga mengandung unsur kimia merupakan zat anti peradangan. bebas radang juga menyebabkan lancarnya aliran darah, yang akan menjaga asupan energi untuk fungsi mental (mengingat , memecahkan masalah, dll) menjaga mood tetap senang serta mencegah pengerasan dinding arteri (sehingga mencegah penyakit jantung). berkaitan dengan penyakit jantung , blueberry juga menjaga zat nitri oksida yang membuat dinding arteri arteri tetap fleksibel yang  merupakan kondisi yang dapat mencegah terjadinya penyakit.

Baobab adalah pohon yang dapat berumur panjang sering disebut Tree of Life karena pohon ini bisa berumur sampai 800 tahun, konon pohon di foto ini sudah berumur 1500 tahun memang masih kalah dengan perkiraan pohon Red Sherman atau General Sherman tree di California yang mencapai 2200 tahun.

Baobab adalah nama umum dari sebuah genus (Adansonia) yang terdiri dari delapan spesies pohon asli Madagaskar, Afrika daratan dan Australia. Spesies Afrika daratan juga ada di Madagaskar, tetapi tidak asli negara itu.

Baobab dapat menyimpan 300 liter air sekaligus dalam musim hujan, pohon ini dikeramatkan di daerah asalnya karena mengingatkan penduduk tentang nenek moyangnya.

Pohon ini juga terkenal karena salah satu Formasi Baobab di Madagaskar yang paling terkenal terpublikasi secara massal setelah menjadi kandidat The new 7 Wonder Nature Baobab Avenue,  dimana formasi pohon Baobab menjulang tinggi dengan sangat indahnya.

Tanaman Nagasari di beberapa daerah di Indonesia disebut dengan beberapa nama yang berbeda seperti Balam Bakulo (Palembang), Balam Pucung (Kubu), Nyatoh Darat (Bangka), Nyatoh Pisang (Bangka Belitung), Balam Pucung, Nyatoh Terung, Pulai Pipit (Minangkabau), Nyatoh Terung (Lampung), Nagasari (Jawa).

Ciri-ciri dan Habitat Pohon Nagasari. Tumbuhan Nagasari (Palaquium rostratum) mempunyai pohon yang besar dengan ketinggian hingga 30 m, dan diameter mencapai 120 cm. Batangnya lurus, bulat torak dengan banir tipis, lebar. Kayunya coklat kemerahan, mengkilat, berurat indah dan ringan. Buahnya hijau memanjang dan berisi biji yang memanjang pula.

Pohon Nagasari (Palaquium rostratum) tumbuh di Indonesia tumbuh di Pulau Sumatra, kalimantan, Jawa, Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi dan Maluku. Selain itu juga terdapat di Thailand selatan dan Malaysia.

Pohon Nagasari banyak tumbuh di hutan tropika di dataran rendah sampai ketinggian 1500 m dpl. Seringkali tumbuhan ini didapati tumbuh di hutan-hutan yang berawa. Perkembangbiakan pohon ini dengan menggunakan biji, namun dapat juga diperbanyak dengan menggunakan stek.

Manfaat Pohon Nagasari. Pemanfaatan Pohon Nagasari antara lain Kayunya yang banyak digunakan untuk perabot di dalam rumah, lantai, dan mebel. Kayunya kadang-kadang dipakai juga untuk membuat perahu. Sedangkan buah Nagasari (Palaquium rostratum) dapat dimakan dan bijinya mengandung lemak yang banyak untuk memasak.

Selain itu bunga Nagasari dapat dimanfaatkan sebagai obat anti diare, aromatik, ekspektoran, gangguan jiwa. Minyak biji untuk lampu, obat koreng, encok, kulit menggerisil, biji untuk eksim, urat darah membesar, benangsasi untuk sakit panas.

Oleh masyarakat jawa, kayu Nagasari diyakini sebagai salah satu kayu yang bertuah yang bermanfaat untuk keselamatan, kewibawaan, pengobatan, perlindungan terhadap orang jahat/jin jahat, binatang berbisa, anti tenung. Karena itu tidak jarang pohon ini ditemui tumbuh di area pemakaman kuno atau tokoh-tokoh sejarah.

Klasifikasi Ilmiah: Kerajaan: Plantae; Filum: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Ebenales; Famili: Sapotaceae; Genus: Palaquium; Spesies: Palaquium rostratum (Miq. Burck). Sinonim Palaquium bancanum (Burck); Croixia rostrata (Baehni).

Referensi: http://www.plantamor.com; Gambar: en.academic.ru

Buak Khas Kalimantan

BUAH-BUAHAN KHAS KALIMANTAN TERDAPAT DI KALSEL

 

 

Buah Sangkuang

 

 

Buah tarap merah atau disebut juga buah Kulidang

 

hambawang pulasan

 

 

Mangga kecil sekali disebut Cilitan

 

Maritam

 

Gitaan

 

Isi

 

buah tarap

 

buah kapul

 

buah kalangkala

 

Balangkasua

 

 

buah Maritam, buah jenis rambutan tapi tidak berbulu, buah ini khas pedalaman Kalimantan

 

Asam putar, disebut juga asam pulasan, jenis mangga unik ada di pedalaman Kalimantan, karena bijinya bisa dilepas dengan cara buahnya diputar. Langsat Burung bunga papakin Keberadaan buah-buahan khas Kalsel, seindah kembang buah pampakin ini isi buah lahung, buah lahung, buah jenis durian yang ada di pedalaman Kalsel. buah lahung Buah Pampakin Kalangkala Mundar Bangkinang Gitaan Kacapuri

 

mentega

 

Mentega

 

rambai rambai               hambawanghambawang rambutan          mentega langsat burung                  Rumbia Gitaan/(tampirik) Tarap Binjai Mundar  apel Banjar kasturi.jpg kasturi katapi sambal  kuwini manggis    Ruko atau langsat hutan kapul.jpgkapul                               buah durin mantaulaKaratongan ramania kalangkalarukamlangsat tanjung lalamas Lalamaskatapisuntul timputuk timputuk        Tandui tu’u buah rotan       jambu agung Isi buah maritam Siris    delima rambutan garuda Nam2Sawu Kuranjimaritam Buah mata kucing  Buah Kapul  isinya biasanya putih warnanya, tapi yang ini unik, kuning, makanya dinamakan kapul mentega

Buah ini tak jelas namanya, rasanya seperti rambutan tapi kulit buah tak berbulu buahnya kecil-kecil, seperti buah maritam ada jua bentuknya, tak taulah Rambutan kecil, rambutan ini hanya sebesar telur puyuh atau keliring, tapi rasa rambutan ini agak kecut kuwini tiwadak tiwadak buah kepayang, kita hanya kenal mabuk kepayang, tetapi tidak tahu kepayang itu apa, nah kepayang itu adalah buah, dari biji buah ini ada isi setelah melalui proses pengolahan, maka isi  dalam biji buah ini bisa dimakan, hingga keenakan, sampai sampai lupa pekerjaan lain karena mabuk keenakan makan kepayang ini. Buah Jinalun mangga sapat Mangga kecil yang disebut hasam hurang atau mangga sapat Mantaula Jeruk Siam Banjar buah-buahanku Limau kuit pasar buah-buahan tarap durian binjai tiwadak taraptarap hambawanghambawang  ramania rambai  langsatramania langsat manggis tiwadak BUAH  KHAS KALIMANTAN KIAN LANGKA Banjarmasin,18/10 (ANTARA)-Buah-buahan khas Kalimantan yang berada di kawasan Kalimantan Selatan kian kian langka setelah pohon buah-bauah tersebut terus ditebang untuk digunakan sebagai bahan baku gergajian. Demikian keterangan warga di bilangan Kabupaten Balangan, kepada ANTARA saat melakukan mudik lebaran, demikian dilaporkan Kamis. Berdasarkan keterangan penduduk Desa Panggung, buah khas yang sudah langka seperti jenis maritam (buah sejenis rambutan tapi tidak berbulu), siwau (juga jenis ramburan juga tidak berbulu) asam hurang (mangga kecil rasanya manis). Buah lain yang pohon kayunya terus ditebang, tandui (sejenis mangga tetapi rasanya sangat kecut, biasanya disenangi hanya dijadikan rujak), lahung (sejenis durian berbulu panjang dan lancip dengan warna kulit merah tua), serta mantaula (sejenis durian berklit tebal berduri besar rasanya khas). Buah-buahan yang hanya berada di pedalaman Kalimantan khususnya di Pegunungan Meratus tersebut dicari lantaran pohonnya selalu besar, sehingga bila dijadikan kayu gergajian maka kayu gergajian dari pohon itu volumenya banyak. “Sejak sepuluh tahun terakhir ini, kayu buahan tersebut ditebang diambil kayunya untuk dijual dan untuk bahan bangunan pembangunan rumah penduduk,” kata Rusli penduduk setempat. Perbuuan kayu buah-buahan tersebut setelah kayu-kayu besar dalam hutan sudah kian langka pula, setelah terjadi penebangan kayu dalam hutan secara besar-besar dalam dekade belakangan ini. Sementara permintaan kayu untuk dijadikan vener ( bahan untuk kayu lapis) terus meningkat, setelah kayu-kayu ekonomis dalam hutan sudah sulit dicari, Bukan hanya untuk vener, kayu-kayu dari pohon buah itu dibuat papan untuk dinding rumah penduduk, atau dibuat balokan serta kayu gergajian. Beberapa warga menyayangkan penebangan kayu buah tersebut, lantaran jenis kayu ini adalah kayu yang berumur tua. “Kalau sekarang ditanam maka mungkin 50 tahunan bahkan ratusan tahun baru kayu itu besar,” kata warga yang lain. Sebagai contoh saja, jenis pohon buah lahung yang ditebang adalah pohon yang ratusan tahun usianya, makanya pohon lahung yang banyak ditebang ukuran garis tengahnya minimal satu meter. Warga mengakui agak sulit melarang penebangan kayu pohon buah tersebut lantaran itu kemauan pemilik lahan dimana pohon itu berada, sebab pohn itu sebelum ditebang dijual dengan harga mahal, sehingga oleh pemilik lahan dianggap menguntungkan. PRODUKSI BUAH-BUAHAN LOKAL PEDALAMAN KALSEL MENURUN DRASTIS Banjarmasin,30/3 (ANTARA)- Produksi buah-buahan lokal Pedalaman Kalimantan Selatan (Kalsel) beberapa tahun belakangan ini mengalami penurunan drastis lantaran pohon buah-buahan itu tidak banyak yang dibudidayakan sementara tanaman yang ada sebagian besar sudah tua-tua dan tidak berproduksi dengan baik lagi. Wartawan ANTARA yang melakukan perjalanan ke wilayah Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan seperti dilaporkan Minggu memperoleh keterangan dari warga bahwa produksi buah-buahan itu menurun tidak seperti beberapa tahun yang lalu. “Biasanya saat musim buah seperti sekarang ini, produksi buah-buahan lokal melimpah, seakan tak ada harganya lagi, tetapi sekarang produksi yang ada jumlahnya sedikit, akhirnya buah-buahan lokal itu berharga mahal,”kata Nahlian Noor menuturkan. Nahlian Noor yang dikenal sebagai pedagang buah di kawasan tersebut mengakui untuk memperoleh buah-buahan dengan jumlah besar untuk dibawa ke kota sekarang sudah sulit sekali, untuk kebutuhan masyarakat setempat saja hampir tak mencukupi apalagi harus dibawa ke luar daerah. Sebagai contoh buah Pampakin (sejenis durian warna kuning kemerahan) sekarang satu biji sudah seharga antara Rp5 ribu hingga Rp10 ribu di tempat, walau harganya dinilai cukup mahal tetapi kalau dijual di kawasan ini saja sudah rebutan karena produksinya yang sedikit itu. Padahal tahun-tahun sebelumnya produksi buah Pampakin selalu saja memludak dan banyak dibawa ke Banjarmasin serta kota-kota lain   di Kalsel, bahkan dibawa ke Balikpapan dan Samarinda (Kaltim). Menurunnya produksi buah lokal tersebut karena banyak pohon buah itu tidak dipelihara dengan baik, apalagi dibudidayakan dengan pembibitan yang baru sama sekali hampir tak pernah terlihat lagi. Bahkan banyak pohon buah lokal yang berpohon besar bukannya dipelihara melainkan justru ditebang karena kayu dari pohon buah ternyata belakangan laku dijual untuk dibuat bahan bangunan seperti papan, kasau, gelagar, dan kayu gergajian yang lain. Selain itu kayu pohon buah lokal ini juga laku dijual ke berbagai perusahaan vener (bahan pelapis plywood) dengan harga yang menggiurkan, akhirnya banyak warga pemilik buah-buahan lokal tidak mau repot memelihara pohon itu, tetapi dijual dengan harga mahal ke berbagai perusahaan itu, kata seorang warga yang lain. durian Di Pedalaman Kalsel, khususnya di kaki Pegunungan Meratus Kabupaten Balangan, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) serta Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dikenal sebagai sentra buah-buahan lokal  Kalsel. Kawasan ini setiap musim buah memproduksi buah lokal seperti tiwadak (cempedak), durian yang kalau di kawasan setempat terdapat sekitar 30 spicies durian, rambutan sekitar 40 spicies, dan mangga-manggaan yang juga puluhan spicies. Jenis buah yang biasanya selalu melimpah, adalah langsat terdapat beberapa spicies,rambai beberapa spicies. Di kawasan tersebut terdapat beberapa jenis buah lokal yang khas dan unik, seperti lahung sejenis durian tetapi durinya panjang-panjang dan lancip warna kulit merah kehitaman, bentuknya bulat dan rasanya sangat khas. Buah lahung kebanyakan dipergunakan sebagai penyedap penganan. Kemudian juga ada buah maritam, mungkin pamily rambutan tetapi tidak berbulu, kulitnya keras warna kulit hijau kemerahan, rasanya seperti rambutan. Buah khas lain yang berdasarkan data terdapat di Kalsel tetapi terus menurun  populasinya adalah Kasturi (Mangifera casturi), Hambuku (Mangifera spp), Hambawang (Mangifera foetida), Pampakin (Durio kutejensis), Mundar (Garcinia spp), Pitanak (Nephelium spp), Tarap (Arthocarpus rigitus), Kopuan (Arthocarpus spp), Gitaan (Leukconitis corpidae), serta Rambai (Sonneratia caseolaris) ciri biologis buah kalsel Rambutan timbul Buah langka Khas Kalimantan yang ada di Kalsel Papaken (Durio kutujensis) Papaken yang mempunyai nama lain yaitu lai, tergolong durian yang berumur genjah, pada umur 5 tahun kerabat durian ini sudah mulai berbuah. Pertumbuhan tanaman tidak terlalu tinggi. Buah berbentuk bulat, berwarna hijau sampai hijau kekuningan. Kulit buah yang masak berduri agak lunak dan mudah dibelah. Rasa daging buahnya manis dan empuk, berwarna kuning emas dan beraroma kurang menyengat, kurang alkoholik. Biji berwarna kuning kecoklat-coklatan. Karena populasinya dialam sudah berkurang, tanaman ini tergolong dari 40 jenis tumbuhan langka di Indonesia yang harus dilindungi, yang termasuk katagori rawan. Mantuala (Durio, sp). campuran, berumah satu. Buah tergolong buah buni, berbentuk buat sampai bulat memanjang, daging buah berwana kuning muda sampai jingga, ada yang berserabut dan tidak. Biji batu berdinding tebal. Kerabat durian ini dicirikan dengan adanya lekukan pada tiap sekat (katup) buahnya. Daging buah berwarna jingga, tebal, manis, beraroma kurang menyengat, kurang alkoholik, berbiji coklat. Buah yang muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kuning muda kalau sudah masak. Kuwini (Mangifera odorata). Kelompok mangefera jenis ini dicirikan dengan aromanya yang menusuk. Buah berbentuk bulat memanjang, berukuran agak besar, berat/buah dapat mencapai 400 gram. Daging buah berwarna kuning, manis dan agak berserat. Kulit buah berwarna hijau,buah yang masak dicirikan dengan daging buahnya yang lunak dan aromanya yang menusuk. Kuweni Anjir, adalah salah satu jenis kuwini yang khas, dengan rasa yang manis, dapat beradaptasi di lahan rawa pasang surut, lebih tahan terhadap penggerek buah. Hambawang (Mangifera foetida) Kelompok dari magifera ini dicirikan dengan kulit buahnya yang tebal, dan mengandung getah. Kulit buah berwarna hijau kekuningan, berbintik hitam dan kadang ditemui getah hitam yang mengering dikulit. Daging buah berwarna kuning, dengan rasa dari masam sampai manis, daging buah berserat. Jenis hambawang lainnya adalah hambawang putar yang dicirikan dengan bentuk buahnya yang bulat, berukuran agak kecil daging buah dengan biji dapat dipisahkan dengan cara diiris sekeliling buah dan diputar. Kasturi (Mangifera casturi Kosterm/ Mangifera casturi Delmiana). Kelompok mangifera ini dicirikan dengan aroma yang khas. Buah berukuran kecil dengan berat/buahnya mencapai 50- 75 gram, berbentuk bulat sampai bulat agak memanjang. Kulit buah muda berwarna hijau, kalau matang berangsur-angsur menjadi ungu. Daging buah berwarna jingga dengan rasa manis yang khas. Kasturi mempunyai wilayah penyebaran yang sempit (Kalimantan), dan tergolong dari 200 jenis tumbuhan langka di Indonesia yang harus dilestarikan. Kasturi diabadikan sebagai maskot flora Kalimantan Selatan. Kasturi rawa-rawa/Asam rawa-rawa (Mangifera sp) Tanaman yang mirip dengan kasturi ini dibedakan oleh bentuk buah yang agak memanjang. Rasa dan aromanya yang khas, manis, tidak begitu menusuk dan tidak berserat. Kulit buah bagian pangkal berwarna hijau, bagian ujung berwarna ungu. Kasturi palipisan (Mangifera sp). Mempunyai buah yang lebih besar dibanding Kelompok kasturi lainnya, berat/buah dapat mencapai lebih dari 100 gram. Warna daging buah jingga, agak berserat, padat, dengan rasa manis. Buah muda berwarna hijau, buah yang masak dicirikan dengan warna ungu pada ujung buah. Kasturi cuban(Mangifera sp). Kerabat kasturi ini dicirikan dengan bentuk buahnya yang bundar, dengan ukuran lebih kecil dibanding kelompok kasturi lainnya. Berat buah antara 40 – 75 gram. Daging buah berwarna kuning,lunak, agak berserat. Rasa buahnya manis asam yang segar. Binjai manis (Mangefera kemanga) Kerabat ini mempunyai rasa manis dan aroma yang khas. Daun bulat telur memanjang, tebal dan liat berukuran agak besar, dengan tulang daun yang tidaktampak. Bunga kecil, dalam karangan bunga berbentuk malai, warna putih. Buah berbentuk lonjong, daging buah putih, lunak, warna kulit buah hijau. Buah yang masak dicirikan dengan daging buah yang lunak dan timbulnya aroma khas. Biji besar, berwarna ungu. Binjai yang manis ini dikenal pula dengan nama daerah kalimantan binjai wanyi. Binjai masam (Mangefera kemanga) Binjai ini dicirikan dengan raba daging buahnya masam ini yang masam. Warna kulit buah yang matang bervariasi ada yang cokelat, cokelat kemerahan dan hijau. Tarap(Artocarpus odoratissimus). Kerabat ini mempunyai daerah penyebaran yang sempit. Buah berbentuk bulat, berduri lunak dan panjang, Kulit buah hijau dan keras sewaktu muda, berangsur- angsur coklat kekuningan dan lunak kalau sudah masak. Daging buah berwarna putih, lunak dan manis. Biji berwarna putih, berukuran kecil. Daun ber ukuran besar. Kulit batang bergetah. Kopuan(Artocarpus lanceifolia) Kerabat ini mirip dengan tarap, yang membedakan hanya warna daging buahnya yang jingga dan duri buahnya yang pendek dan agak keras. Cempedak(Artocarpus intgra) Kerabat ini dicirikan dengan daunnya yang berbulu banyak dan lebih panjang dibanding nangka. Bunga tersusun dalam tandan. Kulit buahnya tidak kasar, dengan bentuk buah yang bundar memanjang. Aroma buahnya sangat khas dan menusuk, daging buah melekat pada biji, agak tipis, lembek ber serat, berwarna kuning dan rasanya manis. Manggis, Rambutan, Jeruk siam, Langsat, Ketapi, Ramania, rambai, sawo pancukan (nam-nam) dan buah mentega, Srikaya, kalangkala. Tanaman rawa Kalimantan. Mundar/bundar (Garcinia forbesii). Buah mundar berwarna merah cerah, berbentuk bundar, berkulit buah yang tipis dan lunak. Daging buah berwarna putih, dengan rasa manis, semakin dekat kebiji akan terasa asam segar. Berat/buah 40-60 gram. Biji berukuran kecil, pipih dengan berat 0,2 gram. Bundar berbuah lebih produktif di banding manggis. Sepanjang ranting muncul buah berkelompok 2 sampai 7 butir Ketapi suntul (Sandoricum koetjape Merr) Dicirikan dengan buah yang berbentuk bulat dengan pangkal meruncing, ukuran lebih kecil dan rasa yang manis. Ketapi masam (Sandoricum koetjape Merr) Buah bulat dengan pangkal meruncing, berukuran besar, dengan rasa masam. langgsat roko ( Lansium sp) Dicirikan dengan buah berbentuk bundar, berkulit sangat tebal, berbiji besar, daging buah tipis dengan rasa masam. Langsat roko ini mempunyai nilai ekonomis yang rendah. Selat (Lansium sp) Dicirikan denagn buah berbentuk bundar, kulit buah agak tebal dibanding langsat biasa. Warna kulit kuning muda. Daging buah putih bening dengan rasa manis menyengat. Ramania Ramania(Gandaria) tergolong kedalam divisio Spermatophyta, Sub Divisio Angiospermae, Klas Dicotyledoneae Ordo Anacardiales, Famili Anacardiaceae, Genus Bouea dan Spisies Bouea macrophylla. Tergolong kedalam tanaman keras/tahunan (paranual), berupa pohon (arbor), tinggi 10-20 m. Daun tunggal, duduk daun berhadapan, bentu memanjang, liat seperti kertas, tepi rata, bertangkai 1-2,5 cm. Bunga kecil, dalam karangan bunga berbentuk malai, ukuran 4-10 cm. Tiap karangan ada 2 jenis bunga, jantan dan berkelamin ganda. Tangkai bunga pendek, kelopak 5 buah, kuning, tenda bunga panjangnya 1,2- 2,5 cm. Bakal buah tersembunyi, beruang satu, berbakal biji tunggal. Buah berbuntuk buni, bulat, berdaging, mengandung air, berwarna kuning. Kulit buah halus, berwarna kuning. Biji berwarna ungu. Rambutan Garuda (Nephelium Lappaceum) Rambutan yang adaptif di lahan rawa ini, mempunyai Keunggulan rasanya yang manis, buahnya yang besar ( 50,40 Gram/buah), daging buah yang tebal (0,65 cm), berbiji kecil ( 2,45 gram), dan sangat ngelotok. Rambutan Antalagi (Nephelium Lappaceum) Buah dari rambutan Antalagi ini berukuran sedang (26,38 gram/biji), rasa manis, dengan ketebalan daging buah sedang (0,40 cm). Warna buah merah agak kuning, dengan bulu jarang. Rambutan Ini dapat beradaptasi dengan baik pada lahan rawa pasang surut dan rawa lebak. Rambutan Sibatuk. (Nephelium Lappaceum) Rambutan ini mempunyai rasa yang sangat manis, daging buah berair. Buah berwarna merah dengan ketebalan daging buah sedang (0,45 cm). Cukup adaptif untuk lahan rawa pasang surut dan lebak. Rambutan Sitimbul. (Nephelium Lappaceum). Buah berwarna merah, daging buah tebal (0,675 cm), dengan rasa yang sangat manis, dengan biji yang kecil (1,8 gram). Rambutan ini juga adaptif untuk lahan rawa pasang surut dan lebak. Kerabat-kerabat rambutan yang dikoleksi di Kebun Percobaan Banjarbaru adalah : maritam, siwau, pitanak, mata kucing dan babuku. Maritam (Nephelium mutabile) Kerabat rambutan yang satu ini mempunyai daun yang lebih kecil di banding rambutan (panjang 12,0 cm, lebar 4,4 cm) Buah tidak mempunyai rambut , dengan kulit buah yang tebal, berupa tonjolan-tonjolan dengan ujung yang meruncing. Warna buah muda hijau, berangsur-angsur menjadi merah tua kalau masak. Daging buah tebal, ada yang mudah dikelupas dari biji ada yang tidak., dengan rasa agak masam sampai manis Siwau ( Nephelium sp) Kerabat rambutan ini juga berbentuk pohon, daunnya majemuk dengan ukuran lebih kecil dibanding rambutan (panjang 9,0 cm, lebar3,5 cm). Buahnya kecil, berwarna merah, daging buah tipis, dengan rasa agak manis sampai manis. Pitanak (Nephelium sp) Kerabat rambutan ini berbentuk pohon, yang ketinggiannya dapat mencapai 20 meter. Daun lebih besar di banding rambutan, permukaan daun mengkilat Buah berbentuk bulat, tanpa rambut. Daging buah tipis, dengan rasa manis. Daging buah sukar dilepas dari bijinya. Mata kucing (Nephelium malaiense) Tanaman ini dapat mencapai ketinggian sampai 20 meter. Daun majemuk, bentuk anak daun memanjang, lebih kecil dibanding rambutan ( panjang 13 cm, lebar 4,0 cm). Buah berbentuk bulat, kecil, berwarna kuning, tanpa rambut, rasanya manis. Bijinya berwarna coklat kemerahan. Babuku (Nephelium sp). Kerabat rambutan ini, mempunyai buah yang mirip dengan buah mata kucing, tapi ukurannya lebih besar. Mempunyai daun majemuk yang juga lebih besar dibanding mata kucing. Srikaya Srikaya tergolong kedalam divisio Spermatophyta, Sub Divisio Angiospermae, Klas Dicotyledoneae, Ordo Annonales, Famili Annonaceae, Genus Annona, Spesies Annona squamosa L. Buah ini tergolong kedalam tanaman perdu/ pohon, tinggi 2-7 m. Daun berbentuk elliptis, tepi rata. Bunga 1-2 berhadapan atau di samping daun. Buah majemuk, berbentuk bola. Kulitnya seperti sisik. Daging buah matang lembik, lepas bersama kulit buahnya, putih, manis. Biji hitam mengkilat. Kandungan vitamin C 35-42 mg/100 g. Mentega Buah mentega (bisbol) tergolong kedalam divisio Spermatophyta, Sub Divisio Angiospermae, Klas Dicotyledoneae, Ordo Ebenales, Famili Ebenaceae, Genus Diospyros dan Spisies Diospyros philippensis Desr.Gurke / Diospyros blancoi A.DC / Diospyros discarlon. Buah ini kedalam tanaman keras/ tahunan (paranual), berupa pohon (arbor), tinggi 7-15 m, berumah dua. Tajuk dan kanopinya rimbun, berbentuk bulat, kadang- kadang hampir menyerupai kerucut. Daun tunggal, duduk berseling. Helaian daun berbentuk bulat memanjang, tepi rata, seperti kulit. Bunga berwarna putih kekuningan, bau semerbak. Buah berbentuk bulat, dengan bulu halus seperti beludru, buah masak berbau tajam. Daging buah berwarna kuning muda, manis, kering dan menyegarkan. Biji berwarna coklat. Ada 2 jenis buah mentega yang ditemukan di Kalimantan, yang berwarna kuning dan berwarna merah. Kandungan gizi Setiap 100 gram bagian yang dimakan mengandung 83,0-84,3 g air, 2,8 g protein, 0,2 g lemak, 11,8 g karbohidrat, 1,8 g serat, 0,4-0,6 abu, 46 mg Kalsium, 1,8 mg Phospor, 0,6 mg besi, 35 IU vitamin A, 0,02 mg Thiamin, 0,03 mg Riboflavin dan Niacin, 18 mg vitamin C, dan rata-rata energi yang dihasilkan adalah 332 kJ/100g. Rambai Rambai tergolong kedalam divisio Spermatophyta, Sub Divisio Angiospermae, Klas Dicotyledoneae, Ordo Euphorbiales, Famili Euphorbiaceae, Genus Baccaurea dan Spisies Baccaurea mutleana. Buah ini tergolong kedalam tanaman keras/tahunan (paranual), berupa pohon (arbor), tinggi 10 -20 m. Daun tunggal, bentuk memanjang. Buah lebat, bertangkai, berbentuk bulat, kulit buah berwarna putih kecoklatan. Daging buah berwarna putih bening, berair, dengan rasa manis. Biji gepeng, kecil yang lengkat dengan daging buah. Tanaman rambai cukup adaptif di lahan rawa, baik rawa pasang surut maupun lebak. Kacapuri Kerabat manggis ini berupa pohon, tinggi 6-20 meter. Daun tunggal, permukaan licin mengkilat. Bentuk buah bundar, buah muda berwarna hijau, berangsur-angsur kekuningan kalau matang. Kulit buah keras, tebal. Daging buah putih, transparan, tipis, dengan rasa manis kecut. Biji keras,coklat kehitaman, mengkilat. Diambil dari tulisan Muhammad Saleh, Mawardi M., Eddy W. dan Dwi Hatmoko berjudul Determinasi dan morfologi Buah Eksotis Potensial Di lahan rawa dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa Banjarbaru Penulis sedang berada di kebun buah-buahan milik keluarga di Desa Inan, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, Kalsel Sedikit Tentang Pisang ————————— PISANG/musa spp…adalah tanaman buar berupa herba yg berasal dari kawasan di Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika/Madagaskar,Amerika Selatan dan Tengah.Jenis pisang dibagi menjadi tiga: 1)Pisang yg dimakan buahnya tanpa dimasak yaitu M. Paradisiaca var sapientum,M. nana atau juga disebut M. cavendishii,M. sineosis.Misalnya pisang ambon,susu,raja,cavendish,barangan dan mas. 2)Pisang yg dimakan setelah buahnya dimasak yaitu M. paradisiaca forma typicaatau disebut jg M. paradisiaca normalis.Misalnya pisang nangka,kepok dan tanduk. 3)Pisang berbiji yaitu M. brachycarpa yg di Indonesia dimanfaatkan daunya.Misal pisang batu dan kluthuk. 4)Pisang yg diambil seratnya misal pisang manila.Pisang adalah buah yg sangat bergizi yg merupakan sumber vitamin,mineral,dan jg karbohidrat.Kulit pisang jg dpt digunakan untk membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang bisa digunakan sebagai pembungkus aneka makanan tradisional.Batang pisang abaca diolah mnjd serat untk pakaian,kertas dll. Batang pisang yg telah telah dipotong kecil2 dan daun pisang bisa untk makanan ternak rumansia pada saat musim kemarau di wilayah yg rawan kekeringan.Secara tradisional,air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sbagai obat desentri dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat penawar racun. Daun pisang tertentu di pakai sebagai bahan baku untuk uang kertas. Batang pisang dapat di pakai untuk kompres, dgn di tumbuk lalu sbg tampelan kompres pada anggota badan yg sakit. Tanaman pisang ini toleran akan ketinggian dan kekeringan.Di Indonesia umumnya dpt tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan setinggi 2000m dpl.Pisang ambon,nangka dan tanduk tumbuh baik sampai ketinggian 1000m dpl. Cara perbanyakan pisang menggunakan bonggol,anakan dan kultur jaringan. Bila memperbanyak menggunakan bonggol,bongkar pohon berikut bonggolnya dgn catatan mata tunas tidak boleh rusak.Bonggol yg ada mata tunasnya dibelah dgn ukuran 10x10x10,masukan dlm air panas 55 derajat celcius selama 1 jam kemudian direndam di dalam larutan Perangsang Tumbuh Organik/PTO atau ZPT lainya selama 1 jam. Apabila menggunakan anakan,memilih tanaman yg sudah berbuah dan sehat,menyeleksi benih dgn ketinggian yg sama. Memperbanyak dgn kultur jaringan hanya dpt dilakukan di laboratorium.Keuntungan kultur jaringan adalah;mampu menghasilkan bibit dlm jumlah banyak,bermutu dan seragam dlm waktu singkat,sifat tanaman sama dgn induknya,kesehatan bibit lebih terjamin serta kecepatan tumbuh lebih cepat drpd yg konvensional/bonggol anakan.

kelubi1

Asinan kelubi yang asam, tapi segar.

Di Bangka, Provinsi Bangka Belitung, ada yang namanya asinan kelubi. Rasanya asam kecut. Tapi, asyik menyegarkan. Biasanya, dijual dalam botol atau toples. Kamu pernah mencicipi asinan kelubi?

Asinan itu dibuat dari buah kelubi. Buah ini bentuknya mirip sekali dengan buah salak. Warnanya pun sama, yaitu cokelat kemerahan. Kulit bersisiknya juga serupa. Tapi, kelubi bernama latin, Eleiodoxa conferta . Sedangkan salak bernama latin Salacca zalacca . Ternyata, berbeda spesies, ya.

kelubi2

Kelubi mirip banget dengan salak, ya.

Pohon kelubi tumbuh di rawa-rawa, di hutan payau. Buahnya berdiameter 3-5 cm. Diameternya lebih kecil daripada salak. Daun kelubi panjang, sekitar 3 meter. Batang di tengah daunnya atau petiole  berduri-duri yang panjang 5-7 cm.

Kelubi tumbuh di wilayah Asia Tenggara. Di Indonesia, buah ini dapat ditemui di Bangka, Sumatera, dan Kalimantan. Kalau di Jawa, kelubi sulit sekali ditemukan. Siapa pernah melihat kelubi di Pulau Jawa?

http://www.kidnesia.com/Kidnesia/Potret-Negeriku/Flona/Flora/Kelubi-Si-Salak-Bangka

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.